Adopsi Sistem HOTS untuk Tingkatkan Daya Saing di Abad 21

39

Mangupura (Bisnis Bali) – Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS) sebagai bagian dari keterampilan abad 21 sangat perlu diberikan kepada siswa, yang dapat mendorong daya saing negara-negara anggota SEAMEO di pasar global. Jika tidak, kompetensi sumber daya manusia dalam negeri akan ditinggalkan oleh orang-orang dari negara lain.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Indonesia, Dr. Didik Suhardi, saat memberi sambutan sebelum meresmikan Program Pembukaan Bersama untuk Sidang Tahunan Dewan Pembina Governing Board Meeting (GBM) dari tujuh Pusat SEAMEO (SEAMEO Centres) di Indonesia pada Senin (7/9) di Anvaya Beach Resort Kuta, Badung.

Didik mengatakan, ini dapat memperkuat kolaborasi dan saling melengkapi keahlian masing-masing untuk mempercepat penerapan kurikulum abad ke-21 yang merupakan salah satu dari tujuh bidang prioritas SEAMEO.

“Saya percaya bahwa jika kita bekerja bersama, kita dapat meningkatkan kualitas dan relevansi sistem pendidikan kita di Asia Tenggara secara lebih cepat dan tepat,” jelasnya.

SEAMEO adalah Organisasi Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara, yang merupakan organisasi regional antar pemerintah negara-negara Asia Tenggara didirikan pada 1965 untuk mempromosikan kerjasama regional dalam pendidikan, sains dan budaya di wilayah tersebut. Organisasi ini terdiri dari 26 Centres khusus di 10 negara Asia Tenggara. Kegiatan seluruh pusat regional SEAMEO berada dibawah koordinasi Sekretariat yang berlokasi di Bangkok, Thailand.

Prioritas SEAMEO lainnya adalah (1) Perawatan dan pendidikan anak usia dini, (2) Mengatasi hambatan inklusi, (3) Ketahanan dalam menghadapi keadaan darurat, (4) Mempromosikan pendidikan dan pelatihan teknis dan kejuruan, (5) Revitalisasi pendidikan guru, dan (6) Harmonisasi pendidikan tinggi dan Penelitian.

Direktur SEAMEO Secretariat, Dr. Gatot Hari Priowirjanto, mengucapkan selamat kepada SEAMEO Centres di Indonesia atas upayanya membawa pendidikan yang relevan dan berkualitas dalam konteks pembelajaran seumur hidup (life long learning) dengan menggunakan teknologi informasi dan didukung oleh agenda penelitian dan pengembangan masing-masing.

“Kami telah melembagakan mekanisme kolaborasi Inter-Centre (ICC) di antara SEAMEO Centres di Indonesia serta bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia, yang menyepakati program kerjasama 3 tahun,” tuturnya.

Dia mengharapkan, dalam waktu dekat, model ICC dapat diimplementasikan dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, yang dapat diperluas ke Kementerian Pendidikan lainnya di negara-negara Asia Tenggara dengan dukungan penuh dari Anggota Dewan Pembina. Dukungan ilmu dan sumber daya antara SEAMEO Centres akan menghasilkan kisah sukses Asia Tenggara melalui kolaborasi inovatif dalam menerapkan program lintas sektor dan relevan yang berfokus pada Tujuh Bidang Prioritas SEAMEO. (wid)