Kain Tenun Ikat Bali Andalkan Pasar Lokal

6

Tabanan (Bisnis Bali) – Kain tenun ikat Bali yakni, endek dan songket saat ini cenderung masih mengandalkan pasar lokal. Demikian, Ida Ayu Mas, pemotif pendek dan songket Bali, Minggu (16/9).

Endek dan songket Bali memiliki kekhasan tersendiri. Motif  tradisionalnya yang dibuat pemotif  terinspirasi dari unsur seni dan budaya Bali. Pemotif songket bukanlah sembarangan. Dia punya skill khusus karena itu tak salah kalau hanya segelintir orang yang bisa jadi pemotif.

Pemotif beda dengan keahlian yang dimiliki penenun. Penenun lebih banyak menduplikasi motif hasil karya pemotif profesional. Karya motif songket bernilai seni tinggi. Itu juga mempengaruhi harga jualnya yang lumayan mahal dibandingkan jenis kain lainnya.

Menurutnya pengembangan songket dan endek perlu terus dipacu sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal khususnya secara maksimal. Endek dan songket lekat dengan budaya Bali, karena jenis kain ini hampir digunakan pada setiap waktu. Seperti diketahui acara adat dan agama terus bergulir di Bali.

Contohnya acara pernikahan di mana endek dan songket menjadi unsur penting dalam seni tata rias pengantin tradisional Bali. Demikian dengan acara – acara persembahyangan endek tak kalah lazim digunakan.

Bahkan menggunakan endek sebagai kain bawahan yang dipadupadankan kebaya maupun safari selain memberi kesan khas, juga bermartabat. Memang pendek dan songket jenis kain mahal. Kisaran harga pendek yakni ratusan – jutaan rupiah per lembar.

Dia optimis pengembangan endek dan songket  oleh pelaku usaha kecil menengah ( UKM) dari pelosok desa – perkotaan selain mengangkat nilai jualnya, dengan menjaga kualitasnya secara berkesinambungan industri berbasis potensi kearifan lokal ini akan mampu meningkatkan perekonomian daerah.

Promosi yang tepat dan gencar penting dilakukan dengan memanfaatkan media Pesta Kesenian Bali (PKB), maupun ajang pameran lokal lainnya. Ini bertujuan agar serapan kain tenun ikat ini optimal seiring peningkatan taraf hidup pelaku UKM yang bergerak di bidang terkait.

Sebelumnya, desainer Yenli Wijaya menyampaikan bisnis fashion dinamis. Potensi pendek dan songket Bali merupakan kekayaan yang patut disyukuri. Inovasi produk fashion menggunakan endri dan songket, tentu akan memperluas pangsa pasar. Inilah yang diharapkan sehingga nuansa endri dan songket tak sebatas busana tradisional tapi juga modern.

Dia tak kalah optimis dengan perhatian pihak terkait pengembangan endek dan songket Bali akan mampu memberikan dampak positif pada perekonomian. Sebab produk yang khas dan unik ini jelas juga laku di pasar ekspor. (gun)