Bangli (Bisnis Bali) – Pendakian Gunung Batur tentu membutuhkan stamina yang prima. Untuk itu dilaksanakan sosialisasi pemanfaatan pangan lokal bagi stamina wisatawan dilaksanakan di pelataran pintu masuk pendakian Gunung Batur Kintamani yang diikuti asosiasi hortikultura Bali, Pengelola wisata Gunung Batur, Koordinator Tour Guide dan Pemandu Wisata Gunung Batur, Jumat (14/9).

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Propinsi Bali Ir. Ida Bagus Wisnuardhana, M.Si. menilai, kegiatan ini sangat penting karena mempunyai dampak ganda. Di samping promosi pariwisata juga memperkenalkan pangan lokal Bali sekaligus kampanye diversifikasi pangan untuk kesehatan dan stamina tubuh.

Untuk itu sosialisasi seperti ini kiranya kedepan dapat diperluas pada obyek-obyek wisata lain, karena Bali memiliki cukup banyak obyek wisata alam. Kabupaten Bangli adalah salah satu daerah yang terletak di belahan timur Pulau Bali dengan dataran tinggi dingin. Di samping alamnya yang indah juga merupakan salah satu wilayah yang potensi pertaniannya cukup luas.

Di samping sentra pengembangan ternak sapi, beberapa komoditi pertanian unggulan Bangli adalah sawah relatif sempit hanya 2.876 ha meliputi 108 subak sawah. Tapi lahan kering pertaniannya cukup luas yaitu 33.451 ha meliputi 272 subak abian. Bangli adalah sentranya jeruk keprok siem yang dikenal dengan jeruk kintamani dengan potensi jumlah tanaman menghasilkan sebanyak 2.862.541 pohon, produktivitas 35 kg/pohon dan produksi 101.337 ton.

Bangli juga merupakan sentra produksi bawang merah khususnya di kaldera Gunung Batur dengan potensi luas tanam 1.127 ha produktivitas 13,8 ton/ha produksi 18. 735 ton di samping sayuran lainnya. Untuk komuditi perkebunan, Bangli terkenal sebagai sentra kopi arabika dengan potensi seluas 5.871 ha dari total luas kopi arabika di bali seluas 12.228 ha.

Bupati Bangli I Made Gianyar menilai, ketahanan pangan adalah hak asasi setiap warga negara yang harus difasilitasi. Di Bangli kemandirian pangan harus memperhatikan potensi sumberdaya alam dan sosial budaya tak tergantung pada beras. Pola konsumsi pangan sebagian penduduk masih berbasis pada ubi jalar, ubi kayu dan jagung.

Pihaknya berharap melalui kegiatan ini dilakukan diskusi dan pendalaman pada aspek-aspek pemanfaatan pangan lokal, hambatan yang dihadapi dan solusi pemecahannya. Diharapkan hasil rumusan pertemuan dapat dijadikan acuan utama dalam pelaksanaan program di tahun-tahun mendatang. (ita)