Denpasar (Bisnis Bali) –  Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini, cukup berimbas pada bisnis aksesori emas. “Masyarakat atau konsumen kami cenderung ramai belakangan ini,” ujar Hasan, salah seorang pengelola toko emas di kawasan Jalan Hasanudin, Denpasar, Jumat (14/9).

Rata-rata pihaknya mampu menjual ratusan gram emas per hari.

“Melemahnya nilai tukar rupiah membuat emas banyak dipilih sebagai salah satu alat investasi. Emas berbentuk perhiasan cenderung disukai kaum perempuan. Terlebih lagi modelnya yang selalu mengikuti zaman,” ungkapnya.

Kian beragamnya desain dan motif aksesori emas belakangan ini, secara langsung juga berdampak pada berdenyutnya bisnis emas. Selain dipacu minat beli konsumen yang cukup tinggi, prospektifnya investasi emas juga menyebabkan kalangan pebisnis makin kreatif menggali potensi pasar.

‘’Mode aksesori emas yang antik dan bernuansa tradisional cenderung digemari konsumen hingga saat ini. Tren aksesori emas saat ini tidak jauh berbeda dari yang model ini, yakni back to natural,’’ katanya.

Dengan menghadirkan desain dan motif back to natural yang up to date ini, niscaya konsumennya akan bertambah, terlebih harga emas saat ini cenderung stabil.

Hal senada diungkapkan Ridwan, salah seorang pengelola toko emas lainnya. Selain untuk investasi, aksesori emas juga bisa mempercantik diri.

“Tampil cantik dan anggun merupakan sebuah kewajiban bagi wanita, baik itu menyangkut penampilan busana, make-up , serta aksesori yang digunakan,” ungkapnya.

Tak salah jika bisnis yang berhubungan dengan gaya hidup perempuan, menjadi peluang usaha yang masih tetap menjanjikan hingga kini.

‘’Perhiasan atau aksesori selama ini, merupakan aksesori wajib yang harus dikenakan oleh perempuan untuk mendukung penampilan,” katanya.

“Untuk saat ini, tren konsumen cenderung menyukai aksesori emas model antik dan tradisional karena model ini abadi, yakni tidak ketinggalan zaman.” (aya)