Singaraja (Bisnis Bali)  – Kangkung yang memiliki nama latin Ipomoea Aquatica Forsk merupakan jenis sayuran yang cukup banyak digemari masyarakat indonesia. Tumbuhan kangkung yang termasuk jenis sayur-sayuran ini merupakan tanaman yang memiliki kemampuan tumbuh dalam waktu singkat dan serempak.

Dari segi harga kangkung terbilang cukup murah. Salah satu hal yang menyebabkan kangkung murah adalah kecepatan produksi tanaman itu. Keunggulan tersebut juga bisa dijadikan sebagai peluang usaha yang cukup menjanjikan. Karena itu dewasa ini tak sedikit orang yang membudidayakan kangkung baik untuk dipasarkan atau sekedar untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Di salah satu kelompok tani Lumbung Hidroponik di kawasan Desa Sambangan Singaraja menerapkan sistem budidaya kangkung dengan cara hidroponik.  Kangkung yang dibudidayakan jenis bangkok, karena kangkung jenis ini mampu tumbuh tegak tak menjalar dan tumbuh seragam.

“Setelah memasuki masa panen, kangkung bangkok bisa dipanen langsung dengan akarnya,” jelas Ketua Kelompok Tani Lumbung Hidroponik I Ketut Sugiarta.

Kangkung bangkok memiliki masa panen lebih cepat dibandingkan kangkung jenis lainnya.  Kangkung bangkok dapat dipanen saat berusia 14 – 25 hari setelah pembibitan. Sementara penyemaian benih kangkung dilakukan selama dua malam dengan arang sekam dan melalui proses pendewasaan hingga tumbuh daun sempurna selama satu minggu sebelum dipindah ke media tanam.

Untuk pemasaran kangkung bangkok hidroponik cukup laris di pasaran seiring makin tingginya kesadaran masyarakat akan sayuran higienis. Nilai jual kangkung bangkok hidroponik mulai Rp7000 per setengah kilogramnya. Hanya saja petani hidroponik sejauh ini terkendala persaingan pasar yang masih awam dengan sayur hidroponik.

“Banyak yang masih membanding-bandingkan antara sayur dengan teknik konvensional dengan hidroponik lebih mahal, tapi sejauh ini produksi di kelompok kami selalu habis, “tutupnya.  (ira)