Mangupura (Bisnis Bali) – Pelemahan nilai rupiah yang menyentuh Rp15.000 per dolar AS disikapi dengan mendorong peningkatan ekspor. Humas DPD Perbarindo Bali, Ketut Wardana Jumat (14/9) mengatakan, ketika ekspor menggeliat maka usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) akan tumbuh dan industri bank perkreditan rakyat (BPR) juga ikut bertumbuh.

Diungkapkannya, kenaikan dolar terhadap rupiah bisa berdampak positif dan juga negatif terhadap perekonomian. Hanya saja ketika kegiatan ekspor ditingkatkan maka akan menggeliatkan aktivitas UMKM.

Dampak negatif kenaikan dolar akan terjadi akibat makin mahalnya harga barang impor. Jika komponen bahan impor digunakan untuk mendukung produksi akan menyebabkan terjadinya kenaikan harga barang. Kenaikan harga barang akan berakibat pada menurunnya daya beli masyarakat. Ini akan terlihat pertumbuhan ekonomi menjadi melambat.

Sebaliknya dengan kenaikan dolar akan berakibat pada makin murahnya harga barang ekspor keluar negeri. Ini bisa menyebabkan makin meningkatnya permintaan barang maupun jasa.

Menurutnya, peningkatan permintaan barang ekspor dan produksi ini akan berdampak pada makin luasnya lapangan kerja. Ini akan meningkatkan perdapatan dan daya beli masyarakat termasuk UMKM.  Bali khususnya merupakan daerah tujuan pariwisata dunia. Bali memiliki kesempatan untuk meningkatkan kedatangan wisatawan mancanegara.

Ia menilai, peningkatan pariwisata akan mendorong pertumbuhan kesempatan kerja dan pedapatan masyarakat juga akan meningkat.  BPR akan makin berperan dengan perputaran perekonomian yang makin baik. bergairahnya pariwisata dan indutri ikutannya akan mendorong produksi yang berakibat pada kebutuhan permodalan semakin meningkat.

Peran BPR dalam menyediakan kredit modal kerja juga makin meningkat saat terjadi peningkatan kegiatan ekspor dari sektor usaha khususnya UMKM.

“Jadi pertumbuhan perekonomian akan semakin baik termasuk pertumbuhan BPR juga akan semakin baik kedepan,” tandasnya. (kup)