Dibayangi Pelemahan Rupiah, Harga Bahan Pangan di Tabanan masih Stabil

11

Tabanan (Bisnis Bali) – Pelemahan rupiah belum mempengaruhi harga komoditas pangan yang menggunakan bahan baku impor saat ini. Sebaliknya, harga sejumlah komoditas yang sebelumnya sempat naik di beberapa pasar di Kabupaten Tabanan justru mengalami penurunan.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tabanan, Primayani, di Tabanan, Jumat (14/9) mengungkapkan, harga sebagian besar bahan pangan berada dalam kondisi stabil. Meski terjadi pelemahan rupiah, harga bahan pangan yang terkait dengan kondisi tersebut masih tetap terjaga hingga kini.

“Secara umum harga masih terkendali. Seperti tempe yang menggunakan bahan baku impor, harga maupun ukurannya belum ada perubahan dari sebelumnya,” tuturnya.

Hal sama juga terjadi pada daging ayam dan telur ayam yang terkena dampak dari pelemahan kurs rupiah, karena bahan pakan komoditas tersebut masih mengandalkan dari impor. Hingga kini harga daging ayam maupun telur di pasaran masih stabil, bahkan ada kecenderungan mulai menurun setelah sempat mengalami kenaikan harga sebelumnya.

“Kenaikan harga daging ayam dan telur ini yang terjadi sebelumnya, bukan disebabkan karena pelemahan rupiah, melainkan akibat pencabutan Antibiotic Growth Promoters (AGP) oleh pemerintah yang mempengaruhi produksi di kalangan peternak unggas belakangan ini,” paparnya.

Di luar bahan pangan yang terkait dengan pelemahan rupiah, secara umum harga bahan pangan di Kabupaten Tabanan terkendali. Begitu juga dengan ketersediaan dipasaran, akuinya semua tercukupi atau tidak ada bahan pangan yang mengalami kelangkaan sekarang ini.

Sementara itu, Senin (10/9) lalu hasil monitoring Disperindag Kabupaten Tabanan terhadap sejumlah harga bahan pangan dipasar, tercatat kenaikan harga terjadi pada bawang merah kualitas I dari Rp 18.000 per kg menjadi Rp 20.000 per kg.

Selain itu,  lombok besar merah dari Rp 20.000 per kg menjadi Rp 22.000 per kg, sedangkan daging ayam ras naik tipis dari Rp 38.000per kg menjadi Rp 39.000 per kg. Periode sama untuk sejumlah komoditi lainnya terjadi penurunan harga, diantaranya pada kol, kacang panjang dan kentang dengan kisaran 14-25 persen dari harga sebelumnya. (man)