Pelemahan Rupiah Berpotensi Picu Kenaikan Harga Pangan

16

Denpasar (Bisnis Bali) – Harga komoditas pangan, khususnya berbahan baku impor berpotensi terdampak depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Salah satunya kedelai dan jagung.

“Pelemahan rupiah ini yang sudah menembus kisaran Rp15 ribuan per dolar AS, berpotensi menaikkan harga komoditas pangan di pasaran,” tutur pengamat ekonomi dari Undiknas university, Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, SE.,MM, di Denpasar, Kamis (13/9).

Contoh, kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu yang masih bergantung dari impor, kondisi pelemahan rupiah ini akan membuat harga jual menjadi lebih mahal atau alternatif lain perajin mengakali dengan memperkecil ukuran.

Hal serupa juga berdampak pada harga daging ayam di pasaran. Makin mahalnya harga jagung sebagai bahan baku pembuatan pakan dampak dari pelemahan rupiah dan juga menurunnya produksi di dalam negeri akan berimbas pada harga jual daging ayam dan produk ikutannya di pasaran.

“Harga produk-produk tersebut di pasaran pasti akan naik. Terkecuali kandungannya diperhemat (dikurangi) dari sebelumnya, namun itu tentu akan berdampak pada kualitas produk nantinya,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya tak perlu impor untuk bahan baku pangan tersebut dan sejumlah bahan baku lainnya, karena masih mampu menghasilkan di dalam negeri. Jika alasan impor tersebut karena kualitas produk di luar negeri lebih baik dari dalam negeri, mengapa tak disikapi untuk melakukan perbaikan mutu, sehingga impor tidak menjadi suatu hal yang terus terjadi nantinya.

“Upaya memaksimalkan kuantitas dan kualitas produksi bahan pangan di dalam negeri ini, sekaligus menjadi upaya untuk menghindari kesan instansi terkait yang ingin mencari untung dari transaksi impor selama ini,” tandasnya. (man)