Denpasar (Bisnis Bali) – Penguatan kurs dolar belakangan ini ternyata tak mempengaruhi produkai tahu dan tempe khususnya di Kota Denpasar. Harga tahu dan tempe masih stabil dan permintaan masih tetap tinggi.

Dituturkan salah seorang pembuat olahan kedelai ini, Mulyadi, meskipun ada kenaikan harga pada bahan baku kedelai impor, namun belum mempengaruhi produksi dan permintaan tahu dan tempe.

“Harga kedelai mengalami kenaikan, hanya saja tidak terlalu signifikan yakni saat ini di kisaran Rp7.700, kenaikan baru Rp1.500. Sebelumnya memang pernah mengalami kenaikan hingga Rp5 ribu. Semoga saja saat ini tidak sampai seekstrim itu, dan pemerintah bisa segera memulihkannya, apalagi tahu dan tempe jadi menu utama masyarakat kita,” harapnya.

Mulyadi yang menggeluti usaha ini sejak 8 tahun silam ini menambahkan, dalam sehari dirinya menggunakan 2 – 3 kuintal kedelai yang diolah menjadi tahu dan tempe. Produk olahannya didistribusikan tak hanya di Denpasar, namun sampai di Kabupaten Badung dan Tabanan.

“Untuk menaikkan harga sangat sulit sekali karena pangsa pasar kita para pedagang eceran yang pembelinya juga kebanyakan dari masyarakat menengah ke bawah. Paling kita siasati dengan ukuran produk yang sedikit lebih kecil, dan untuk konsumen yang jeli juga pasti akan langsung protes. Jadi kita serba salah dan hanya bisa berharap harga ini tak akan naik lagi dan kita bisa beroperasi seperti biasa,” ujarnya.

Saat ini mulyadi yang memiliki usaha di kawasan Ubung Denpasar ini menjual tahu dengan harga dari Rp500 perpotong hingga Rp1.000 rupiah. Sedangkan untuk tempe dijual dengan harga Rp2.000 per potong atau 3 potong Rp5.000. (ita)