Denpasar (Bisnis Bali) – Dalam menghadapi persaingan global, pengusaha pariwisata diarahkan kreatif mengembangkan produk pariwisata. Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Wilayah Bali, Dr. I Putu Anom M.Par , Jumat (7/9) menilai, wisata buatan dikembangkan untuk diversifikasi daya tarik wisata Bali.

Selama seabad pengembangan pariwisata, Bali sudah melalui empat tahapan.  Pada 1908 pariwisata Bali baru pada tahap penemuan atau pengenalan potensi pariwisata terutama oleh Pemerintah Hindia Belanda dan tokoh-tokoh masyarakat lokal yang baru memahami pariwisata sebagai komoditi yang bisa menjadi daya tarik.

Tahap reaksi sekitar 1920 sudah mulai ada wisatawan yang berkunjung dan lebih banyak ditangani perusahaan Belanda. Ini  terutama para pegawai dan pengusaha Hindia Belanda yg berekreasi.

Saat bersamaan juga mulai datang para peneliti dan penulis pariwisata beserta seniman-seniman lukis dari Barat yang mulai menetap sampai menikah dengan wanita Bali yang tinggal di Ubud maupun di Sanur.

Ada tokoh-tokoh Bali terutama Raja Ubud dengan rombongan kesenian Bali memperkenalkan budaya Bali ke Eropa. Ini sekaligus mempromosikan pariwisata Bali. Bahkan sudah ada pengusaha-pengusaha lokal Bali yang mengembangkan bisnis pariwisata.

Tahap Kelembagaan di mana setelah Indonesia Merdeka sudah mulai ada Badan Tourisme Pariwisata Indonesia serta didukung pembangunan Bandara Ngurah Rai dan Hotel Bali Beach Sanur.  Sebelum itu masih masa penjajahan Belanda sudah ada Bali Hotel di Denpasar.

Setelah jaman Orde Baru mulai ada Undang-Undang Kepariwisataan. Ini termasuk lembaga Direktorat Jenderal Pariwisata bahkan Menteri Pariwisata. Ia melihat di Bali  sudah ada Perda Kepariwisataan sebagai pedoman pengaturan pariwisata Bali. Perda ini menjadikan budaya sebagai maskot pengembangan pariwisata Bali sampai saat ini.

walaupun sudah berkembang pesat kawasan-kawasan wisata terutama Sanur, Kuta, Ubud serta khususnya Nusa Dua yang merupakan kawasan wisata yang dikembangkan berdasarkan kajian konsultan asing (Sceto).

Tahap Kompromi ditandai dimana sejak tahun 2000-an sudah banyak berkembang Pariwisata Buatan yang dikreasikan oleh pengusaha-pengusaha pariwisata dengan masyarakat lokal. Ini dengan memanfaatkan potensi yang ada dengan harapan menambah diversifikasi daya tarik wisata Bali.

Putu Anom menambahkan dakam pengembangan pariwisata diusahakan pengusaha dan masyarakat harus kreatif agar pengembangan pariwisata  sehingga tidak monoton. Ini salah satunya wisata buatan yang menyerupai daya tarik wisata di luar negeri. Dengan daya tarik yang kreatif  diharapkan wisatawan bisa kembali berkunjung ke Bali bisa untuk kedua kalinya bahkan bisa berkali-kali berkunjung ke Bali. (kup)