Terkait Pelemahan Rupiah, MC Mengaku tak Ada Spekulan Dolar AS

65

Mangupura (Bisnis Bali) – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS) rentan menjadi ajang spekulasi bagi pihak-pihak yang mencari keuntungan pribadi. Kendati demikian pelaku kegiatan usaha penukaran valuta asing (KUPVA) atau masyarakat kenal money changer (MC) mengakui tidak ada spekulan dolar AS di tengah pelemahan rupiah saat ini.

“Tidak ada kegiatan pembelian dolar AS. Kami sebagai pelaku usaha MC hanya melayani penukaran mata uang saja sehingga tidak ada spekulan,” kata Ketua KUPVA Bali Ayu Astuti Dhama, Rabu (5/9) kemarin di  Jimbaran.

Transaksi penukaran uang relatif normal, tak ada lonjakan terhadap mata uang negara tertentu. Pelaku usaha dan anggota KUPVA Bali selalu mengikuti peraturan yang dikeluarkan Bank Indonesia terkait besaran uang yang bisa ditukarkan.

“Dengan mengikuti peraturan BI berarti tidak akan ada oknum yang sengaja memanfaatkan pelemahan rupiah dengan mengumpulkan dolar AS,” jelasnya.

Dalam peraturan BI sudah diatur, seandainya penukaran 100.000 dolar AS hingga 1.000.000 dolar AS harus dilengkapi izin BI. Hal sama dikatakan pengelola MC di Kuta, Nyoman Arik. Ia mengatakan, transaksi penukaran masih wajar. Mereka yang memiliki dolar minim melakukan penukaran.

“Terkadang ada peningkatan transaksi penukaran ke dolar. Walaupun transaksi relatif meningkat, tetapi bukan karena adanya ulah spekulan,” terangnya.

Menurutnya, peningkatan transaksi tak semuanya mengarah membeli dolar karena ada pula yang menukarkan dolar ke rupiah. Alasan wisatawan mancanegara, masyarakat maupun perusahaan membeli dan menukarkan uangnya bervariasi. Tetapi yang pasti, ia tidak memungkiri sejak rupiah kian menyentuh Rp 14.800 ada sedikit lonjakan penukaran di bawah Rp400 jutaan.

Sementara pengamat ekonomi, Irawan, menilai pelemahan rupiah saat ini bisa saja didukung tingginya permintaan dolar AS di pasar valas. Di sinilah peran otoritas apakah itu BI, OJK maupun kepolisian perlu mengawasi transaksi ang berpotensi dilakukan spekulan ataupun melakukan profit taking yang membuat rupiah kian terdepresiasi.

“Bisa saja ada oknum spekulan memanfaatkan pelemahan kurs rupiah dengan berusaha membeli dolar,” katanya. (dik)