Gianyar (Bisnis Bali) – Industri bank perkreditan rakyat (BPR) sudah dihadapkan tingkat kredit bermasalah (NPL) cukup tinggi. Ketua DPK Perbarindo Gianyar, Made Suarja Selasa (4/9) mengatakan, guna menekan NPL BPR mesti memilih sektor usaha yang kecil risiko dalam penyaluran kredit.

Dalam perlambatan ekonomi, BPR dituntut tumbuh dan bertahan. Ini artinya BPR mesti tetap menggenjot penyaluran kredit untuk meraih laba atau pendapatan. Dalam perlambatan ekonomi BPR tentunya juga tidak jor-joran menyalurkan kredit. Kredit yang disalurkan tetap selektif dan tepat sasaran.

Dalam penyaluran kredit BPR mesti memilih pasar yang telah teruji. BPR mesti kembali meyakinkan menggarap sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Sektor UMKM selama ini memang lebih banyak menyediakan produk yang dibutuhkan masyarakat.

Penggarapan UMKM dinilai sangat tepat dalam berbagai kondisi termasuk perlambatan ekonomi. UMKM dinilai tetap eksis di tengah ekonomi mengalami perlambatan.  Suarja melihat BPR membutuhkan waktu dan tenaga untuk mengarap pasar di luar UMKM.

“Untuk itu UMKM yang tumbuh di masyarakat mesti digarap optimal,”ucapnya.

Dengan selektif menyalurkan kredit, BPR bisa bertumbuh dan bertahan. SDM BPR mesti berkualitas sehingga kredit yang disalurkan tepat sasaran. Saat ini dengan tetap menggarap UMKM, BPR mampu mengurangi risiko penyaluran kredit. (kup)