Denpasar (Bisnis Bali) –  Biasanya bisnis bunga potong dan bunga rangkai menggeliat pada momen-momen tertentu, seperti Valentine Day dan hari raya besar keagamaan. Kendati tanpa momen, saat ini bisnis bunga potong dan bunga rangkai tetap berdenyut dan eksis di pasaran, karena telah memiliki pelanggan tetap, seperti hotel, vila dan restoran.

‘’Permintaan bunga potong dan bunga rangkai kami hingga kini selalu ada pembeli setiap harinya, kendati tanpa momen peringatan hari raya, hari nasional atau hari kasih sayang,’’ ujar Solihin, salah seorang pebisnis bunga potong di kawasan Denpasar, Rabu (5/9).

Pembelinya dari kalangan perhotelan, vila dan restoran. Kondisi tersebut, membuat pebisnis bunga potong tetap menjamur di kawasan Mayjen Sutoyo., Denpasar

‘’Dari sekian banyak varian bunga potong kami, bunga Mawar, Aster dan Gerbera yang cukup laris, laku sebanyak ratusan potong dan puluhan bunga rangkai setiap harinya,’’ ungkapnya.

Stok bunga potongnya ini didatangkan langsung dari Jawa, dan sebagian dari Tabanan. Terlebih, hotel telah berkomitmen untuk memanfaatkan hasil produk lokal, sehingga bunga produk lokal ini masih memiliki pasar hingga kini.

‘’Kami berupaya dapat memenuhi standar permintaan pasar (hotel), yakni mutu perlu ditingkatkan lebih baik lagi,’’ jelasnya.

Tak hanya mutu, persediaan produk lokal yang kuantitasnya terjaga sangat diperlukan.

Hal senada diungkapkan Winda, salah seorang pebisnis bunga potong lainnya. ‘’Bisnis kami hingga kini tetap berdenyut kendati tanpa momen, karena kami sudah memiliki pelanggan tetap dari kalagan hotel, vila dan restoran,’’ ujarnya.

Untuk industri seperti hotel dan restoran, kebutuhan bunga potong dan bunga rangkai sangat dominan. Terlebih jika hotel atau restoran tersebut ada acara dinner, party, hingga meeting, jelas membutuhkan rangkaian bunga yang segar dan harum untuk menghidupkan suasana ruangan.

‘’Kami menyediakan bunga potong dengan harga mulai Rp12.000 per potong, sedangkan bunga rangkai mulai ratusan ribu rupiah per pcs,’’ tandasnya. (aya)