Festival Jatiluwih Berdayakan Potensi Masyarakat Lokal

23

Denpasar (Bisnis Bali) – Festival Jatiluwih kembali digelar tahun ini, pada 14-15 September mendatang di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Festival tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya dilabeli agriculture festival, tahun ini lebih berwarna memadukan kreativitas dan budaya.

Ketua Panitia Festival Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa mengatakan, Festival Jatiluwih 2018 mengangkat tema “MaTha Subak”, yang berarti perwujudan dari pemaknaan Tri Hita Karana yakni harmonisasi antara manusia dengan Tuhan, alam dan sesama.

“Festival Jatiluwih yang ke-2 tahun ini berbasis pada pemberdayaan masyarakat setempat. Ajang ini juga sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan dengan cara mengadakan perayaan,” kata Manager Operasional DTW Jatiluwih ini di Denpasar, Rabu (5/9).

Jatiluwih yang berada di kaki gunung Watukaru menjadi daerah penting di hulu dengan sumber mata air langsung yang mengairi persawahan berundak. Di Jatiluwih pula, subak sebagai sistem tata kelola air sudah menjadi tradisi turun temurun yang diterapkan secara komunal dan berkeadilan.

Pada 2012 UNESCO menganugerahi subak Jatiluwih sebagai warisan budaya dunia (world cultural heritage) dan sekaligus sebagai pengingat bagi masyarakat Jatiluwih untuk melakukan pelestarian. Pengelolaan wilayah berbasis masyarakat telah menjadi praktik masyarakat di Jatiluwih.

“Festival Jatiluwih mendorong partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam mengelola dan mengembangkan potensi yang mereka miliki untuk dikemas menjadi nilai-nilai yang dapat diapresiasi secara lebih luas lewat penyelenggaraan festival,” ujarnya.

Festival Jatiluwih 2018 menyajikan penampilan seni dan budaya lokal seperti Tari Kecak, Joged Bumbung, Atraksi Burung Celepuk, Tari Sri Manik Galih dan Rindik. Ada pula seni kontemporer dalam format seni musik dan seni pertunjukan, serta workshop, pameran kerajinan, kuliner dan komoditas yang terdapat di Jatiluwih.

Musisi yang akan tampil di antaranya Indra Lesmana Keytar Trio, Saharadja, Ito Kurdhi Ethnotronic, Marapu, Balawan, Tropical Transit, Sound of Mine feat. Ginda Bestari, Ronald Gang dan Leanna Rachel, serta kolaborasi masyarakat Jatiluwih dengan musisi nasional dan internasional seperti Gilang Ramadhan, Eko Prawoto, Tebo Aumbara, Miyoshi Mashato Project.

“Kegiatan ini didukung oleh Pemkab Tabanan dan Kementerian Pariwisata. Festival ini ke depan diharapkan tetap eksis untuk merayakan kebersamaan masyarakat dalam mengembangkan potensi yang ada di Jatiluwih untuk dikembangkan sebagai konten pariwisata budaya,” imbuh Sutirtayasa, sembari menyebut target kunjungan sebanyak 1.000 orang lebih. (dar)