Mangupura (Bisnis Bali) – Akibat perlambatan ekonomi, kredit bermasalah di industri bank perkreditan rakyat (BPR) mengalami peningkatan menjadi di atas 5 persen. Bendahara Perbarindo Korcam Mengwi Abiansemal (Mas), Trisnaningsih Wulandari mengatakan menyikapi kondisi itu, BPR mesti selektif salurkan kredit.

Industri BPR selalu berharap debitur mampu memenuhi kewajibannya. Angsuran kredit diharapkan tetap dibayar sesuai kemampuan debitur.  Kondisi ekonomi melambat yang diikuti erupsi Gunung Agung menyulitkan sektor usaha dan sektor perbankan. Kemampuan nasabah membayar angsuran kredit mengalami penurunan.

Perlambatan pembayaran angsuran kredit ini menjadi indikator peningkatan angka NPL di BPR. Ini tentunya menuntut BPR makin meningkatkan pendekatan dengan para debitur.  Langkah pembinaan dinilai sangat efektif menurunkan angka NPL menjadi dibawah 5 persen. Debitur selalu diingatkan untuk memenuhi kewajiban membayar angsuran kredit.

Dirut BPR Calliste meyakinkan, nasabah yang mengalami penurunan kemampuan diarahkan melakukan permohonan restrukturisasi kredit. Ini guna memastikan nasabah tetap memenuhi kewajiban membayar angsuran kredit.

Langkah selanjutnya, BPR tentu selektif menyalurkan kredit. Permohonan kredit yang disetujui  maksimal 50-70 persen dari nilai anggunan sesuai dengan jenis kredit.

Trisnaningsih Wulandari menambahkan dalam analisa kredit tetap mengacu pada kemampuan debitur. Kredit disalurkan terutama sektor UMKM yang selama ini membutuhkan permodalan. ” Dengan sasaran yang tepat, kredit yang disalurkan akan lancar sesuai dengan tujuan,” tegasnya.  (kup)