Pelemahan Rupiah, Berpotensi Untungkan Sektor Pariwisata di Bali

30

Denpasar (Bisnis Bali) – Dibalik nilai tukar rupiah pada Senin (3/9) siang yang masih bergerak melemah dikisaran Rp 14.745 per dolar AS, kondisi tersebut berpeluang menjadi berkah bagi sejumlah sektor usaha di Bali saat ini. Di sisi lain, dengan posisi rupiah saat ini, membuat depresiasi rupiah menjadi 8,52 persen sejak awal tahun ini.

Pengamat ekonomi, IB., Kade Perdana, di Denpasar, mengungkapkan, kian melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS akan berdampak pada daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor. Lantaran, beberapa sektor industri bergantung oleh impor bahan baku dan barang modal. Di sisi lain, dibalik dampak buruk tersebut kondisi ini juga memberi peluang bagi sektor lain, salah satunya pariwisata Bali yang menjadi tujuan destinasi dunia selama ini.

“Sebenarnya Bali selalu diuntungkan dengan pelemahan rupiah. Sebab, bila rupiah melemah, harga-harga termasuk paket maupun sarana pendukung wisata bagi wistawan yang berlibur di Pulau Dewata menjad lebih murah dari sebelumnya. Hal sama juga berlaku bagi kalangan eksportir, di mana Bali juga menjadi produsen untuk itu,” tuturnya.

Jelas Kade yang juga Ketua Wakil Umum Kadin Bali Bidang Fisikal dan Moneter, bagi sektor pariwisata dengan murahnya biaya berlibur ke Bali, tentunya menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk kembali datang maupun memperpanjang masa tinggalnya. Sayangnya, Bali belum bisa memanfaatkan maksimal peluang itu saat ini. Sebab, sejumlah infrastruktur penunjang pariwisata belum tertata dengan baik, dan kalaupun sudah ada penataan itu baru terpusat di daerah Badung bagian selatan dan Kota Denpasar saat ini.

“Kabupaten lainnya yang memiliki potensi pariwisata yang cukup besar, infrastrutur penunjangnya belum tertata dengan baik selama ini,” ujarnya.

Bercermin dari kondisi itu, pemerintah provinsi maupun daerah diharapkan melihat pelemahan rupiah ini sebagai peluang bagi sektor pariwisata, terlebih lagi dalam menyambut ajang Annual Meeting International Monetary Fund (IMF) dan grup World Bank yang akan digelar di Bali nantinya.

“Ajang bertarap internasional tersebut sangat berpeluang menjadi berkah besar bagi perputaran ekonomi di Bali, di tengah pelemahan rupiah yang masih terjadi hingga kini,” tegasnya. (man)