Amlapura (Bisnis Bali) – Sawah lokasi festival subak di Bugbug, Karangasem, akan dijadikan agrowisata. Pengelolaan itu bakal dibicarakan bersama pemilik lahan sawah, manajemen Desa Wisata Bugbug, serta pihak desa dinas dan Desa Pakraman Bugbug.

Hal itu disampaikan Ketua Desa Wisata Bugbug, I Wayan Sutama, S.E., Jumat (31/8) di lokasi festival subak di Bugbug.  Menurut Sutama yang juga Ketua Komunitas Jagung Karangasem itu, potensi menjadikan areal sawah di subak itu sangat besar untuk dikelola menjadi agrowisata atau ekowisata. Sebab, persawahan itu subur serta viewnya sangat indah. Areal persawahan itu dikelilingi perbukitan Desa Bugbug.

Dengan dikelola menjadi objek wisata, areal sawah terus bisa ditanami petani pemilik lahan. Jadinya, pertanian akan berkelanjutan. Namun, tanaman atau budidaya jenis tanaman akan diatur atau ditata, sehingga  objek agrowisata itu tetap indah. Selanjutnya, objek itu dipromosikan. Di pintu masuk areal trekking, tentunya akan disediakan pos pemungutan karcis.

‘’Kami sudah  sempat mendiskusikan tentang rencana melanjutkan areal sawah itu dijadikan agrowisata. Banyak yang tertarik dan mendukung, tinggal menyamakan persepsi dengan tokoh-tokoh desa,’’ papar Sutama.

Sejumlah warga di Bugbug mengatakan, selama persiapan lokasi festival subak itu, banyak wisatawan mancanegara yang tertarik. Banyak yang datang diantar pramuwisatanya dan berfoto-fotoan di lokasi yang indah di utara pusat desa Bugbug.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian  Karangasem Ir. I Wayan Supandi mengaku sangat mendukung rencana tersebut. Pihaknya menggelar festival subak sebagai edukasi kepada masyarakat petani. Karena itulah, sawah lokasi festival subak dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu.

Selain menyiapkan lahan siap tanam, juga melakukan sosialisasi dengan petani setempat. Lahan yang dipakai festival subak seluas 2,26 hektar. Demontrasi plot (Denplot) yang dibuat berbagai jenis tanaman holtikultura seperti berbagai varietas bunga kenikir, melon, terong, jagung, padi, mina padi, serta berbagai tanaman lainnya. Teknik budidaya juga ditentukan, seperti jagung ditanam dengan sistem jarak jajar legowo 2-1.

‘’Festival subak ini, kami gelar selama tiga hari yakni dibuka  Sabtu (1/9) sore hari ini dan ditutup Senin (3/9). Tentunya berbagai kegiatan digelar, termasuk dimeriahkan dengan parade budaya serta tarian rejang renteng dengan penari 250 orang, serta banyak kegiatan lainnya,’’ tandas Supandi. (bud)