Benih Nila Jantan lebih Cepat Besar

36

Denpasar (Bisnis Bali) – Budidaya pembesaran ikan nila sebaiknya memilih benih jantan, karena perkembangannya rata-rata lebih cepat besar ketimbang yang betina. Untuk menghasilkan benih jantan, para pembibit ikan nila harus memilih calon induk jantan super.

“Untuk menghasilkan banyak anak, cepat besar dan tidak banyak yang mati, petani ikan sebaiknya mencari calon induk SVF (specific vatogen free) dan bersertifikat sehingga diketahui latar belakang induk dan benar-benar berkualitas. Saya juga menyarankan untuk memilih calon induk jantan super, agar benih yang dihasilkan bisa jantan semua atau lebih banyak jantan,” terang  Ir. I Made Kawan, Mp., Dosen Teknologi Pembenihan, Fakultas Pentanian Universitas Warmadewa, Jumat (31/8) di kampus setempat.

Selain memilih calon induk yang menghasilkan benih jantan, bisa juga dilakukan dengan bio teknologi dengan sek reversal.  Jadi saat benih baru lahir dapat dilakukan teknik tersebut agar semua benih menjadi jantan.

“Biasanya dengan teknologi  ini benih ikan yang baru lahir diberikan makanan yang mengandung metil testiterol, sehingga dalam perkembangannya akan menjadi jantan semua,” ungkapnya. Karena dalam budidaya ikan nila yang pertumbuhannya cepat besar adalah jantan berbeda dengan ikan karper yang betina lebih cepat besar.

Meskipun sudah memilih induk jantan super, diakui lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan gonak ikan tersebut. Jadi tetap tidak bisa 100 % jantan. Karena  pembentukan gonak tersebut terjadi setelah 30 hari.

“Tapi pemberian hormon setelah benih menetas untuk membentuk gonaknya memang beresiko, sehingga memang tidak disarankan. Makanya saya lebih menyarankan untuk membeli calon induk jantan super,” tandasnya.

Dari calon induk yang dipelihara, umur 4 bulan sudah dapat bertelur. Seiring dengan bertambahnya umur dan ukuran induk telur yang dihasilkan makin banyak, sampai puncak produksi. Setelah itu jumlah telur yang dihasilkan akan kembali menurun.

Selain memperhatikan calon induk, hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah kolam pembenihan.

“Sebaiknya pembuatan kolam memang langsung di tanah, jadi bukan kolam semen. Karena perilaku  ikan nila saat kawin yaitu membuat sarang di dasar kolam dengan lumpur dan pasir tempat memijah mengeluarkan sel gamet jantan dan betina,” ungkapnya. Meski demikian bila menggunakan kolam beton bisa dibuatkan sarang dengan mengisi dasar kolam dengan pasir dan lumpur.

Untuk perbedaan pertumbuhan secara pasti antara jantan dan betina dipengaruhi banyak hal. Keaktifan ikan mencari makan dan kualitas air serta lingkungan pemeliharaan sangat berperan dalam budidaya  pembesaran ikan nila. (pur)