Denpasar (Bisnis Bali) – Guna memperkuat ketahanan pangan di wilayah Kabupaten Klungkung, Pemerintah Kabupaten telah melakukan pembangunan sejumlah sarana penunjang pertanian, pemberian bantuan alat pertanian, hingga menciptakan program terobosan, seperti Beli Mahal Jual Murah dan Pemberdayaan Beras Lokal.

Kini, Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta menjalin kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Toyama, Jepang untuk mendapatkan bantuan hibah teknologi mesin pompa air  untuk lahan Subak Sema Agung Banjarangkan yang selama ini mengalami kesulitan air. Pihak Toyama Jepang dikenal memiliki sejumlah teknologi mesin yang berguna di bidang pertanian.

Untuk mewujudkan hal ini, Suwirta bersama Kepala Dinas Pertanian Klungkung, Ida Bagus Juanida menemui Konsulat General Jepang di Renon Denpasar untuk menyerahkan proposal permohonan bantuan itu. Suwirta diterima Deputi Konsulat Jenderal Jepang Koichi Ohasi bersama dua perwakilan Toyama, yakni Koshin Takata dan Teppei Asano.

Dalam pertemuan tersebut Suwirta memaparkan kondisi lahan pertanian Subak Sema Agung seluas 70 hektar yang terbagi menjadi enam tempek, saat ini mengalami kesulitan air akibat posisi air Tukad Bubuh yang jauh berada di bawah sedalam +50m dan kemiringan 80 derajat. Maka dibutuhkan mesin pompa khusus yang dapat mengangkat air sungai tersebut.

“Saat ini lahan Subak Sema Agung hanya bisa ditanami dua tahun sekali. Dengan bantuan mesin dari Toyama dan telah dilakukan kajian, maka nantinya akan bisa ditanami setahun sekali,” papar Bupati Suwirta.

Kepala Dinas Pertanian I. B. Juanida menyampaikan pihak Toyama telah melakukan survei di lokasi dan diputuskan penggunaan mesin pompa dengan tenaga Solar Cell atau energi matahari. Mesin ini memiliki kapasitas 16,6 liter/detik dan nantinya akan mampu mengairi seperempat dari keseluruhan Subak Sema Agung.

“Dengan mesin dari Toyama ini diharapkan dapat mendukung mesin yang sudah ada sebelumnya di Subak Sema Agung,” ungkap Juanida. Ditambahkan, selama ini para petani menggunakan tiga buah mesin pompa konvensional guna mengangkat air dari sungai.

Tapi mesin ini hanya mampu mengangkat sedikit air serta membutuhkan dana operasional yang besar untuk pemenuhan bahan bakarnya.

“90 persen proposal kami telah disetujui, baik oleh pihak Toyama maupun Konsulat. Mudah-mudahan bantuan hibah ini bisa segera terealisasi,” sebutnya optimis.

Menanggapi laporan tersebut, Deputi Konsulat Jenderal Jepang, Koichi Ohasi yang telah fasih berbahasa Indonesia ini mengaku mengerti dengan keadaan yang dialami petani Subak Sema Agung. Konsulat General Jepang dengan senang hati menerima proposal ini untuk selanjutnya menyampaikannya ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.

“Kami merasa senang bisa membantu Kabupaten Klungkung untuk mewujudkan bantuan hibah mesin ini,” ujar Koichi Ohasi. (dar)