A.A. Gede Agung Wedhatama dengan Komunitas Petani Muda Keren.

Singaraja (Bisnis Bali) – Di tengah gencarnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng mendorong pertumbuhan sektor pertanian, terhalang jumlah lahan yang terus mengalami  penurunan dari tahun ke tahun. Selain karena faktor pesatnya pembangunan juga minimnya minat generasi muda dalam bertani. Padahal jika sektor pertanian ditekuni, masih menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi.

Untuk itulah hadir Komunitas Petani Muda Keren Singaraja. Anak Agung Gede Agung Wedhatama mengungkapkan, selain itu di sektor pengolahan yang menggunakan bahan baku dari sektor pertanian juga memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap penyerapan tenaga kerja.

Sektor pengolahan produk pertanian mampu menyerap 35 persen tenaga kerja dari lapangan kerja yang tersedia. Sehingga diperlukan terobosan – terobosan atau strategi agar dunia pertanian kembali diminati, salah satunya memgajak sejumlah petani muda untuk membentuk komunitas petani yang mampu menyatukan antara hulu dan hilir.

Anggota dari komunitas petani besutannya ini terdiri dari anak muda yang hingga kini masih aktif dalam pertanian. “Kita namakan Komunitas Petani Muda Keren, nama ini adalah untuk merubah pola fikir masyarakat, bertani itu kotor atau kampungan dan bertani itu bisa keren bisa menciptakan lapangan kerja dan bisa berpenghasilan lebih dari seorang karyawan swata atau negeri,” katanya.

Komunitas ini memiliki peran penting dalam perkembangan pertanian di daerah khususnya Buleleng yang menjadi Kabupaten terluas di Bali di mana potensi pertaniannya masih sangat tinggi. Salah satunya membuat komunitas petani berupa kelompok tani di masing – masing desa yang tersebar di seluruh Bali seperti Tabanan, Bangli, Gianyar, Karangasem dan Buleleng.

Kelompok tani ini dibentuk sesuai dengan varietas yang dibudidayakan misalnya Kelompok tani jeruk, manggis, durian, sayuran dan masih banyak lagi. “Jadi kita buatkan asosiasi manggis dan komuditi lainnya,” terangnya.

Komunitas ini juga menjadi acuan untuk petani yang ada di kelompok tani. Petani juga akan diberikan Standar Prosedur Opersional (SOP) bagaimana bertani yang baik dan benar baik dari tehnik pemupukan, perawatan, penanganan pasca panen hingga penggunaan pupuk yang tepat.

“Di komunitas kami ada yang namanya pembina dan pengawas internal dimana petani akan diberikan pembinaan agar produk pertanian yang dihasilkan sesuai dengan harapan pasar,”imbuhnya. (ira)