Waktunya Masyarakat Berinvestasi di Obligasi

788

Mangupura (Bisnis Bali) – Pemerhati ekonomi dari Undiknas University, Prof. Dr. Gede Sri Darma, DBA. menyampaikan saat ini waktunya masyarakat berinvestasi di obligasi lewat Savings Bond Ritel (SBR) seri 004 secara online yang mulai ditawarkan bank maupun mitra distribusi lainnya mulai 20 Agustus 2018.

“SBR004 investasi menjanjikan jangan sampai kelewatan apalagi sifat kuponnya yang mengambang akan menguntungkan, sebab tren suku bunga global dan domestik sedang meningkat,” kata Rektor Undiknas University tersebut di Nusa Dua, Senin (20/8).

Menurutnya, investasi SBR004, tingkat bunganya relatif lebih tinggi dibandingkan suku bunga deposito rupiah di bank BUKU 3 dan BUKU 4 dengan tenor yang sama. Selain itu, pajak yang ditetapkan hanya 15 persen atau lebih rendah dibandingkan deposito 20 persen.

“SBR berbeda dibandingkan dengan obligasi ritel Indonesia (ORI) atau sukuk ritel (sukri). Instrumen ini tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder,” paparnya.

Selain itu, instrumen ini juga tidak dapat dicairkan hingga jatuh temponya mencapai dua tahun, kecuali pada masa pelunasan sebelum jatuh tempo, yakni pada 7-15 Oktober 2019.  Itu pun, nilainya maksimal 50 persen dari nilai transaksi pembelian per agen atau mitra distribusi.

Ia tidak memungkiri, meskipun memiliki keterbatasan tersebut, instrumen ini memiliki daya tarik kupon yang tinggi yakni 8,05 persen dan bersifat mengambang terhadap suku bunga BI 7 Days Repo Rate (7 DRR).

“Bunga acuan BI naik kembali dari 5,25 persen menjadi 5,50 persen sehingga kupon invetasi obligasi retail 004 memiliki bunga tinggi yang berasal dari BI 7DRR ditambah spread 255 bps,” ujarnya.

Menariknya, bila BI 7DRR turun ke bawah 5,50 persen, kupon ini tidak berubah. Kupon minimal seri ini lebih tinggi dibandingkan dengan SBR003 lalu yang mencapai 6,80 persen.

“Inilah kesempatan bagi masyarakat umum bisa memiliki SBR004 dengan transaksi secara online,” paparnya.

Investasi SBR004 diakui jelas lebih menarik, bila dibandingkan yield SUN tenor 2 tahun yang saat ini pada kisaran 7,11 persen. Sifat kuponnya yang mengambang akan menguntungkan, sebab tren suku bunga global dan domestik sedang meningkat.

Sifatnya yang stabil ini menjadi pilihan menarik bagi investor untuk amankan dana di tengah volatilitas pasar. Dibandingkan dengan ORI dan Sukri, penjualan instrumen ini memang masih lebih rendah sebab dibatasi oleh nominal minimum dan kelipatan pemesanan yang tidak sebesar keduanya, serta sifatnya yang tidak dapat dijualbelikan di pasar sekunder. (dik)