Denpasar (Bisnis Bali) – Maraknya upacara Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya belakangan ini, membuat kebaya modifikasi warna putih mendominasi penjualan.

Menurut Yunita, salah seorang pengelola butik Kebaya, di kawasan Denpasar, Senin (20/8), kebaya warna putih juga cenderung diminati konsumen, karena bisa dipakai di segala kesempatan, yakni bisa dipakai untuk upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, hingga Manusa Yadnya.

Dengan penanganan yang tepat dan menyesuaikan bahan baku, tak selalu membutuhkan kain mahal untuk bisa mendapatkan pakaian atau kebaya modifikasi dengan tampilan mewah.

‘’Kebaya akan menjadi mahal jika didesain khusus, spesial dan dengan teknik tertentu, misalkan kebaya modifikasi warna putih dengan model bordiran dari leher hingga ke bawah, serta hingga ujung lengan ini dengan harga Rp450.000 per pcs,’’ ungkapnya.

Pihaknya sengaja mendesain kebaya dalam model modifikasi dengan berbagai cara aplikasi saat ini. ‘’Selain kami menyediakan kebaya bordiran, kami juga menyediakan kebaya modifikasi berbahan brokat yang pada bagian dadanya dimodif lipatan-lipatan dengan bahan sifon dan tile,’’ jelasnya.

Tak sedikit kain kebaya dan brokat yang harganya relatif terjangkau, tapi dengan desain khusus bisa menjadi kebaya mewah. Hal ini, kata Yunita, memang membutuhkan penanganan tersendiri, tidak sekadar jahit dan jadi, yakni dibutuhkan sentuhan aplikasi untuk menjadi kebaya modifikasi mewah.

Saat ini kebaya modifikasi lebih banyak dipilih karena desainnya bisa disesuaikan dengan keinginan. Selain itu tampilannya sendiri akan menjadi berbeda, jauh lebih bagus dari hanya menjahit biasa.

‘’Hanya saja biaya untuk kebaya aplikasi atau modifikasi menjadi mahal, karena pengerjaannya sendiri lebih detail dan membutuhkan waktu lebih lama,’’ imbuhnya, seraya menambahkan, seringkali ongkos membuat kebaya menjadi lebih mahal dari harga kain.

Seperti kebaya brokat, tiap detail dan motif pada brokat harus dibentuk satu per satu untuk mendapatkan motif yang pas dan senada dengan motif aslinya.

Hal senada diungkapkan Riska, salah seorang pengelola butik kebaya lainnya.

‘’Kebaya model yang simpel dengan warna-warna yang alami cenderung diminati konsumen,’’ ujarnya.

Jika kreatif dan inovatif menelurkan ide-ide baru untuk seni rancang kebaya, respon pasar juga akan cenderung mengikuti. Bukan saja karena terdorong faktor pentingnya keindahan dalam penampilan berkebaya.

‘’Makin mahal kebaya yang digunakan juga menunjukkan status sosial seseorang,’’ jelasnya.

Di Bali, kebaya telah mendarah daging dalam tiap aspek kehidupan. Pulau yang sarat dengan elemen tradisi, budaya dan agama ini juga telah melahirkan kekhasan dalam khazanah kebaya, sehingga saat ini pihaknya fokus mengerjakan kebaya modifikasi.

‘’Hal itu untuk mengantisipasi persaingan, terutama yang bersegmen pasar ekonomi menengah ke atas,’’ katanya.

Tak hanya itu, kebaya yang berkualitas juga dapat dibedakan dari jenis kainnya, baik yang merupakan jenis brokat maupun bordiran. Misalnya, kebaya bordiran memanfaatkan kain katun akan lebih murah dibandingkan kebaya serupa yang memanfaatkan jenis kain sutra, dan lainnya.

Variasi payet-payet yang menawan juga turut mempercantik kebaya lokal, sehingga sangat pas digunakan kalanga wanita baik untuk acara formal maupun nonformal.

‘’Kami optimis, dengan menggali unsur-unsur tradisional dalam bentuk motif dan desain yang baru, kebaya lokal akan tetap menjanjikan,’’ tandasnya. (aya)