“Kenaikan suku bunga acuan ini untuk meredam pelemahan rupiah sekarang ini”


Denpasar (Bisnis Bali) РKebijakan Bank Indonesia (BI) yang memutuskan menaikkan kembali suku bunga acuannya  sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen, menurut pengamat ekonomi dari Undiknas University, IB. Raka Suardana masih di kisaran wajar. Sebab, sebelumnya kenaikan suku bunga acuan pernah diberlakukan hingga di kisaran 7,25 persen

“Kenaikan suku bunga acuan ini merupakan salah satu cara kebijakan moneter pemerintah melalui BI untuk meredam pelemahan rupiah sekarang ini,” tutur IB. Raka Suardana, di Denpasar, Minggu (19/8).

Kebijakan tersebut bertujuan agar orang membeli rupiah ketimbang dolar, karena harga rupiah mahal. Menurutnya, 5,5 persen masih tidak terlalu ketinggian dan tidak berada di posisi rendah.

Dengan kenaikan suku bunga acuan ini, diakuinya berdampak pada sektor usaha. Sebab, kenaikan tersebut akan berdampak naiknya suku bunga bank nasional. Kondisi itu berpotensi menekan jumlah debitur, dan menaikan jumlah deposan karena mendapat bunga yang lebih tinggi dari sebelumnya.

“Suku bunga yang tinggi ini akan membuat iklim bisnis akan sedikit melesu, namun dampak positifnya rupiah berpeluang akan menguat,” ujarnya.

Prediksinya, penguatan rupiah ini nantinya tak serta merta terjadi dalam waktu yang cepat, karena ada sejumlah faktor eksternal yang juga mempengaruhi bagi penguatan nilai tukar rupiah ini. Meski begitu, katanya upaya tersebut merupakan langkah yang tepat dilakukan saat ini.

Sambungnya, memaksimalkan hasil yang diharapkan, kebijakan kenaikan suku bunga acuan ini harus juga dibarengi dengan intrumen lain. Yakni, menekan jumlah impor yang tidak penting, atau yang sebenarnya bisa dipenuhi oleh produksi di dalam negeri. Selain itu, ekspor juga harus ditingkatkan, sehingga mampu meningkatkan devisa negara. (man)