Mangupura (Bisnis Bali) – Bank perkreditan rakyat (BPR) masih dihadapkan dengan penanganan kredit bermasalah yang mencapai di atas 5 persen. Ketua Perbarindo Korcam Mengwi Abiansemal (Mas), IGW. Dwisandita Selasa (14/8) mengatakan, dalam penanganan kredit bermasalah BPR mesti mengedepankan pembinaan ke debitur.

Diungkapkannya, proses pembinaan debitur menjadi kunci penanganan kredit bermasalah. Dengan proses pembinaan yang baik, kredit bermasalah akan terselesaikan dengan baik. Dirut BPR Sapta Crispy ini menjelaskan, perlu adanya komunikasi yang intensif antara pegawai BPR di bagian kredit dengan debitur yang memiliki kredit bermasah.

“Dengan komunikasi yang baik akan ditemukan jalan terbaik untuk menyelasaikan masalah kredit bermasalah,” ucapnya

Penanganan kredit bermasalah ini menggunakan SOP masing-masing BPR. Strategi yang jitu akan menentukan kemampuan BPR dalam menangani kredit bermasalah.  NPL yang tinggi akan menurunkan tingkat kesehatan BPR. Upaya BPR menurunkan angka NPL sebagai bagian strategi meningkatkan kesehatan keuangan BPR.

Dalam proses pembinaan memiliki tujuan selalu mengingatkan debitur. Mereka diharapkan bisa membayar kewajiban angsuran kredit teoat waktu. Ia meyakinkan dalam proses pembinaan akan ditemukan debitur yang mengalami penurunan kemampuan membayar angsuran kredit. Ini bisa diambil kebijakan restrukturisasi kredit sehingga debitur bisa membayar angsuran kredit yang lebih ringan dan waktu lebih panjang.

Jika nasabah betul-betul mampu membayar angsuran kredit baru diambil langkah pe jualan aset nasabah. Penjualan aset jaminan nasabah ini dilakukan dengan pendekatan kekeluargaan sehingga hubungan baik antara nasabah dan BPR tetap terjalin dengan baik.

“Semua karena pengaruh perlambatan ekonomi, sehingga penanganan kredit bermasalah mesti dilakukan dengan kesepakatan bersama antara BPR dan debitur,” tambahnya. (kup)