Denpasar (Bisnis Bali) – Sejak berlakunya Sistem Layanan Informasi Konsumen (SLIK) yang menggantikan Sistem Informasi Debitur (SID), permintaan informasi debitur (IDEB) di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga semester I 2018 telah mencapai 660 individu dan 15 badan usaha.

“Selama Juni 2018 saja, Kantor OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara telah melayani permintaan IDEB mencapai 70 individu dan 1 badan usaha,” kata Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra, Hizbullah di Sanur, Selasa (14/8).

Berdasarkan data jumlah permintaan IDEB pada Januari 2018 mencapai 103 individu dan 4 badan usaha, Februari 111 individu dan 5 badan usaha, Maret 141 individu dan 1 badan usaha, April 148 individu dan 3 badan usaha. Sementara Mei 2018 mencapai 87 individu dan 1 badan usaha.

Manfaat SLIK bagi kreditur yaitu mempercepat proses analisis dan pengambilan keputusan pemberian kredit, menurunkan risiko kredit bermasalah, mengurangi ketergantungan pelapor atau pemberi kredit kepada agunan konvensional, mendorong transparansi pengelolaan kredit, pemberi kredit dapat menilai reputasi kredit calon debitur dan efisiensi biaya operasional.

Sementara manfaat bagi debitur yaitu mengetahui data kredit perbankan seperti data pokok debitur, plafon debitur, baki debet, kualitas kredit, beban bunga cicilan pembayaran dan denda pinjaman. Bisa pula mempercepat waktu dibutuhkan untuk memperoleh persetujuan kredit, memberikan informasi status informasi agunan serta rincian pinjaman kredit.

“Termasuk mendorong penerima kredit untuk menjaga reputasi kreditnya dan nasabah baru khususnya UMKM mendapat akses yang lebih luas kepada pemberi kredit,” ucapnya.

Hizbullah menegaskan cakupan pelapor SLIK lebih luas dan beragam meliputi lembaga jasa keuangan dan lembaga nonjasa keuangan. Pengganti BI Checking ini juga memiliki infrastruktur, teknologi dan database yang lebih baik sehingga informasi yang disampaikan lebih lengkap, lebih mudah dan lebih cepat.

“Untuk itu bagi masyarakat yang ingin mengajukan kredit baru di LJK sebaiknya mengecek terlebih dahulu apakah punya riwayat kredit bermasalah atau kurang lancar. Jika kredit tidak dilunasi terlebih dahulu maka akan terus tercatat macet dan tidak akan bisa pinjam di semua LJK,” ujarnya.

Masyarakat bisa datang ke OJK untuk mengetahui apakah memiliki riwayat kredit bermasalah karena tidak menutup kemungkinan karena memiliki beberapa pinjaman lupa membayar sehingga itu tercatat di SLIK. Satu contoh kartu kredit.

OJK pun menegaskan dengan adanya SLIK maka debitur yang punya kredit macet di finance atau LJK lainya akan terlihat pula di data perbankan, begitupula dengan LJK lainnya. Beda saat zaman SID yang hanya tampak di perbankan saja, maka ketika debitur punya kredit macet di finance tidak akan kelihatan di perbankan.

“Dengan SLIK dapat mencegah kredit bermasalah karena aplikasi itu akan memudahkan perbankan saat melakukan analisis kepada calon debitur sebelum menyalurkan pinjaman,” ujarnya. (dik)