Denpasar (Bisnis Bali) – Gempa yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) getarannya sampai dirasakan di Bali. Ketua ASITA Wilayah Bali, NTB, NTT, Bagus Sudibya Selasa (14/8) menilai, akomodasi di Bali termasuk di kawasan NTB mesti dirancang tahan gempa sehingga memberikan rasa aman fan rasa nyaman ketika terjadi bencana gempa bumi.

Kawasan Indonesia termasuk Bali berpeluang menghadapi ancaman gempa bumi. Berdasarkan sejarah Bali sempat menghadapi gempa seririt yang juga memakan banyak korban. Termasuk gempa di NTB yang terasa sampai di Bali yang juga memakan banyak korban.

Menyikapi ancaman gempa tersebut, pariwisata Indonesia dan Bali mesti mencontoh kawasan lain di dunia yang sudah siap mengadapi ancaman gempa bumi. Seperti di Bejing Cina sudah menghadapi hampir 200 kali gempa. Bahkan kekuatan gempa mencapai 9 SR. Menyikapi ancaman gempa tersebut masyarakat Bejing termasuk akomodasi di Bejing  sudah dibuat mampu mengahadapi situasi setempat yang rawan gempa.

Pemerintah Indonesia mesti memberikan izin bagi akomodasi termasuk di Bali yang tahan gempa. Ini termasuk pembangunan rumah penduduk di NTB mesti dirancang dengan kontruksi yang tahan gempa.  Akomodasi yang tahan akan memberikan kenyamanan bagi wisatawan ketika terjadi bencana gempa bumi. Selain aman dari gempa, akomodasi di Bali yang aman dari tsunami.

Untuk menghadapi ancaman gempa ke depan arsitektur bangunan menggunakan kearifan lokal. Ini termasuk hotel bertingkat mesti menggunakan struktur bangunan yang tahan gempa.  Ia mencontohkan Jepang membangun rumah bertingkat dengan tiang pancang fleksibel. Ini lebih baik untuk kenyamanan wisatawan yang menginap di hotel berbintang maupun hotel melati.

Jika menggunakan kearifan lokal di Bali, material bangunan lebih banyak menggunakan kayu, papan dan bambu. ” Akomodasi dan restoran yang telah menggunakan struktur dan arsitetur  bangunan Bali diyakinkan taham terhadap guncangan gempa,” ucapnya. (kup)