Denpasar (Bisnis Bali) – Dibayangi pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang tembus Rp14 ribuan per dolar AS, Industri  manufaktur  Mikro  dan  Kecil (IMK)  Provinsi  Bali tetap tumbuh mencapai 8,95  persen pada triwulan II-2018. Penignkatkan ini dibandingkan triwulan sebelumnya pada tahun yang sama. Menariknya, angka tersebut  lebih  tinggi dari  pertumbuhan nasional yang hanya tercatat 1,34 persen pada periode sama.

Kabid Statistik Produksi BPS Bali, Sapto Wintardi., S., Si., M.Si., di Denpasar, belum lama ini mengungkapkan, pertumbuhan produksi IMK di Bali yang memberikan kontribusi positip. Yakni, industri makanan mencapai 37,55 persen, dan industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya 0,15 persen.

Secara tahunan, produksi IMK di Bali tercatat mengalami pertumbuhan 15,61 persen, sedangkan 2017 pada triwulan yang sama tumbuh 3,82 persen. Sementara itu, triwulan II-2018 (y-on-y) produksi IMK Nasional tercatat mengalami pertumbuhan 4,93 persen, sedangkan jika dibandingkan 2017 pada triwulan yang sama tumbuh 1,32 persen.

Produksi IMK Bali yang tumbuh positif, di antaranya industri makanan 48,83 persen, industri kertas dan barang dari kertas 21,15 persen, industri barang logam, bukan mesin, dan peralatannya 9,99 persen, industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang ayaman dari bambu, rotan dan sejenisnya 6,58 persen, industri pakaian jadi 4,50 persen, industri pengolahan lainnya 3,74 persen, dan industri barang galian bukan logam 0,95 persen.

“Periode sama produksi IMK di Provinsi Bali yang mengalami pertumbuhan negatif, hanya industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki tercatat minus 13,43 persen, dan industri furnitur tercatat minus 8,05 persen,” tuturnya.

Pertumbuhan positif juga terjadi di produksi IBS Provinsi Bali pada triwulan II-2018 (q-to-q)  yang tercatat 8,38 persen dan lebih tinggi dibandingkan angka pertumbuhan nasional yang hanya 1,49 persen. Sebagian besar produksi IBS di Provinsi Bali pada triwulan II-2018 tercatat mengalami pertumbuhan  positif di antaranya, industri makanan tumbuh 21,06 persen, industri pengolahan lainnya tumbuh 9,28 persen, industri minuman tumbuh 7,65 persen, industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya tumbuh 0,93 persen, dan industri pakaian jadi  tumbuh 0,27 persen.

“Triwulan II-2018 tercatat mengalami pertumbuhan negatif, hanya industri tekstil dengan pertumbuhan minus 4,24 persen,” tandasnya. (man)