Gianyar (Bisnis Bali) – Peralihan wisatawan yang mengikuti wisata tirta di laut beralih ke wisata tirta ke sungai akibat ombak besar semestinya sangat menguntungkan pengusaha wisata arung jeram (rafting). Ketua DPC Gahawisri Gianyar, Suwarka Senin (6/8) menilai, penambahan orderan wisata rafting menjadi tak begitu terasa karena banyaknya usaha rafting bodong yang menawarkan tarif murah. Ini menjadi kendala bagi perusahaan wisata rafting yang legal.

Dipaparkannya, perusahaan rafting legal akan sulit bertahan ketika orderan wisata rafting mengalami penurunan. Perusahaan rafting bodong berjamuran karena banyaknya pesanan arung jeram oleh wisatawan Tiongkok. Pasar Tiongkok ini dikenal kerap kali memilih paket wisata rafting murah yang ditawarkan pengusaha rafting bodong.

Pemerintah harus memperhatikan menjamurnya perusahaan rafting bodong di Bali termasuk di Gianyar khususnya. Sebab jika tidak Bali akan mendapatkan sampah. “Keuntungan wisata rafting lebih banyak diambil perusahaan bodong yang hasilnya dibawa keluar Bali,” ucapnya.

Ia meyakini banyak tour leader yang membawa tamu masuk ke perusahaan wisata rafting bodong tersebut. “Bahkan perusahaan wisata rafting bodong ini bisa memberikan kesempatan membayar di belakang (ngebon) sesuai perjanjian,” kilahnya.

Perusahaan wisata rafting lokal yang sudah mengantongi izin sangat miris melihat kondisi ini.  Bahkan sudah banyak perusahaan rafting berlisensi yang mati suri. Suwarka minta pemerintah menangani usaha wisata rafting bodong.  Jika dibiarkan, hal ini akan berdampak buruk bagi masa depan pariwisata Bali. (kup)