Tabanan (Bisnis Bali) –  Otonomi Daerah telah memacu daerah terus tumbuh di semua sektor. Di sisi lain juga banyak menimbulkan masalah, seperti urbanisasi yang tak terkendali, meningkatnya tingkat kemiskinan, kualitas lingkungan hidup yang menurun serta sarana-prasarana yang kurang memadai, juga sebagian warga rentan terpapar ancaman bencana.

Melindungi dan menyelamatkan warga yang terpapar ancaman, Pemkab Tabanan atas arahan Pemerintah Pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana Kabupaten Tabanan, menggelar Sosialisasi Kota Tangguh Bencana 2018 di Desa Sesandan, Tabanan, Selasa (31/7).

Kepala Pelaksana BPBD Tabanan Ngurah Sucita menyatakan, acara ini bertujuan untuk membantu Pemda dan pemangku kepentingan lain dalam menilai kebutuhan dan kapasitas mereka saat ini dan di masa mendatang. Mempertemukan semua pemangku kepentingan untuk menyusun strategi-strategi dan tujuan-tujuan besar bersama, membangun satu pemahaman holistic tentang status kota termasuk hubungan mereka satu sama lain. “Dan mengidentifikasikan kebijakan-kebijakan dan intervensi yang akan meningkatkan ketangguhan kota,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti dalam sambutannya yang dibaca Sekkab Wirna Ariwangsa menegaskan, untuk mengantisipasi dan melindungi masyarakat, sangat diperlukan melaksanakan pembangunan yang didasari atas analisis mendalam akan risiko bencana, baik risiko terhadap jiwa manusia, kerusakan lingkungan, maupun aset-aset vital masyarakat.

“Seperti diamanatkan dalam Undang-undang 24 Tahun 2017 Pasal 5, Pemerintah dan Pemerintah Daerah merupakan penanggung-jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, dengan menggandeng Dunia Usaha dan Masyarakat seperti yang dimaksudkan dalam lambing segitiga biru pada simbul Penanggulangan Bencana,” tegasnya.

Pihaknya juga menjelaskan saat ini banyak sekali bencana yang menimpa Bali, khususnya Tabanan. Mulai dari erupsi Gunung Agung, gelombang pasang di pesisir pantai selatan, dan angin kencang. Dan itu mungkin akan terus terjadi serta juga sangat sulit diprediksi meskipun sudah dalam jangkauan Badan Meteorologi dan Geofisika, sewaktu-waktu kehendak alam berlainan dengan ramalan cuaca.

“Oleh karena itu, Saya mengajak bapak-ibu sekalian yang terlibat langsung untuk kita selalu bisa menjalin koordinasi sebelum dan setelah bencana. Secepatnya mengambil langkah inovatif sehingga dampak bencana itu membesar serta bagaimana kita nanti mengambil langkah-langkah atau upaya-upaya agar tidak timbul bahaya yang lebih besar,” ajaknya. (man)