Denpasar (Bisnis Bali) – Sektor properti 2018 masih terimbas lesunya daya beli pada 2017. Namun optimisme pemasok dalam berinovasi berharap pasar mapan bisa menggeliatkan penjualan. Owner Perum Pesona Rajawali, Bagio Utomo, Minggu (29/7) menyampaikan, perlu upaya giat dalam promosi produk. Terutama properti residensial yang memiliki pasar tersendiri yang mengincar segmen mapan. Kualitas produk jadi jawaban dalam memenuhi permintaan properti menengah atas. Logikanya harga lahan dan produk properti naik, sehingga diikuti kualitas layanan.

Selain rumah menengah atas, rumah subsidi juga perlu disukseskan karena dibutuhkan masyarakat. Sinergi yang baik pemasok, pemda, perbankan, dan lainnya diharapkan serapan rumah subsidi optimal. Bank Indonesia memprediksi harga properti residensial pasar primer di Bali berpotensi kembali tumbuh pada triwulan kedua tahun ini.

” Hasil survei yang menyebutkan pertumbuhan perkiraan harga properti residensial mencapai 0,78%,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana di Denpasar, baru – baru ini.

Survei menunjukkan peningkatan harga tertinggi pada triwulan kedua tahun ini diperkirakan terjadi pada rumah tipe menengah yang mencapai 1,24 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Rumah tipe kecil dan besar masing-masing juga diperkirakan tumbuh 0,43 persen dan 0,69 persen.

Sebelumnya pada survei harga properti pasar primer triwulan pertama tahun ini di Bali mengalami stagnansi bahkan mengalami penurunan dengan indeks mencapai 185,23 dengan pertumbuhan 0,75 persen dibandingkan tahun lalu dan menurun minus 0,04 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Dalam survei itu, penurunan paling tajam terjadi pada harga rumah tipe kecil dengan tingkat pertumbuhan minus 1,49 persen diikuti oleh tipe besar mencapai minus 0,49 persen dan rumah tipe menengah minus 0,26 persen. (gun)