Tabanan (Bisnis Bali) – Sejumlah pelaku usaha merasa makin was-was dengan kian terpuruknya mata uang rupiah terhadap dolar AS yang telah menyentuh level Rp 14.500. Betapa tidak, terpuruknya rupiah, konsekwensinya akan berdampak pula pada naiknya harga produksi di sejumlah komoditi impor, sehingga berpotensi menggerus pendapatan usaha.

Salah seorang peternak babi di Kabupaten Tabanan, Nyoman Ariadi, di Tabanan, Senin (23/7) mengungkapkan, merasa was-was apabila pelemahan rupiah ini kembali mendongkrak harga jual pakan oleh pabrikan yang sudah dilakukan sebelumnya. Paparnya, dengan kondisi pelemahan rupiah yang Rp14 ribuan per dolar AS, sudah membuat pabrikan menaikan harga pakan dua kali dalam dua bulan terakhir. Yakni, naik Rp150 per kg atau Rp7.500 per sak pada Juni 2018 lalu, dan kembali naik menjadi Rp10.000 per sak pada Juli lalu.

“Dengan kembali terpuruknya rupiah ke level Rp 14.500 an per dolar, bisa jadi kembali akan menaikan biaya produksi. Yakni, harga pakan dari pabrikan nantinya,” tuturnya.

Jelas Ariadi yang juga Wakil Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi (Gubi) Bali, menurut informasi dari pabrikan sebelum menaikan harga pakan, kebijakan lonjakan harga pakan ini memang disebabkan naiknya harga bahan baku pakan yang masih diimpor. Kondisi itu erat kaitannya dampak dari pelemahan rupiah, dan itu sangat memberatkan bagi peternak babi yang sangat tergantung dari pakan pabrikan untuk bisa menghasilkan babi dengan kualitas baik.

“Kondisi peternak ini hendaknya bisa dibantu oleh pemerintah agar peternak babi di Bali bisa kembali bergairah, sekaligus untuk meningkatkan populasi babi yang belakangan ini cendrung merosot sebagai dampak kekecewaan peternak sebelumnya dengan anjloknya harga babi dipasaran yang cukup lama,” tegasnya. (man)