Nilai Impor Bali cendrung Naik di Tengah Bergejolaknya Rupiah

212

Denpasar (Bisnis Bali) – Nilai impor Provinsi Bali cendrung naik di tengah bergejolaknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Tercermin, dari Mei 2018 nilai impor pulau Dewata naik hingga 22,22 persen dari bulan sebelumnya tahun yang sama.

Kabid Statistik Distribusi BPS Bali, I Nyoman Gede Subadri, di Denpasar, Kamis (12/7) mengungkapkan, Mei 2018 nilai impor Bali mencapai 17.359.518 dolar AS dibandingkan pada April 2018 (m-to-m) yang mencapai 14.204.020 dolar AS.

“Capaian bulan ini juga mengalami peningkatan 60,25 persen jika dibandingkan dengan Mei 2017 (y-on-y) yang mencapai 10.832.603 dolar AS,” tuturnya.

Secara umum, peningkatan ini didominasi lonjakan impor dari Hongkong mencapai 3.828.909 dolar AS, di susul Belgia mencapai 515.780 dolar AS, Denmark mencapai 160.498 dolar AS, dan Amerika Serikat mencapai 135.312 dolar AS. Peningkatan impor dari Hongkong didominasi oleh produk perangkat optik berupa kacamata pelindung sinar matahari hingga ratusan persen serta produk minyak atsiri, kosmetik, dan wangi-wangian mencapai 91,21 persen.

“Sepanjang 2017 hingga 2018, titik impor tertinggi barang dari Hongkong yaitu pada Mei 2018,” ujarnya.

Untuk peningkatan impor dari Belgia didominasi oleh produk mesin dan peralatan listrik berupa monitor dan proyektor hingga kenaikannya mencapai ribuan persen secara month to month. Itu sekaligus membuat titik impor dari Belgia mencapai puncak tertinggi pada Mei 2018. Lanjutnya, peningkatan impor dari Denmark didominasi oleh produk susu, mentega, telur berupa keju yang pada bulan sebelumnya tidak dilakukan impor.

Sementara itu, secara kumulatif impor barang Provinsi Bali periode  Januari – Mei 2018 tercatat mencapai 61.725.999 dolar AS atau mengalami peningkatan 60,11 persen dibandingkan dengan keadaan pada periode yang sama tahun sebelumnya (y-on-y) yang hanya mencapai 38,55 dolar AS.

Selama 2018 negara importir barang ke Bali sebagian besar dikirim dari Hongkong 45,69 persen, Amerika Serikat 9,34 persen, Tiongkok 7,87 persen, Australia 5,08 persen, Thailand 4,29 persen, Jerman 4,21 persen, Vietnam 3,92 persen, Singapura 3,58 persen, Perancis 2,76 persen, dan Italia 2,00 persen. (man)