Denpasar (Bisnis Bali) – Ngumpul santai sambil menyeruput secangkir kopi kini menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan. Gaya hidup ini berdampak positif terhadap kian menjamurnya bisnis coffee shop di Denpasar dan Badung. Sudah menjadi hal lumrah jika melihat masyarakat, baik muda maupun tua nongkrong bareng di coffee shop.

Menurut Ridwan, salah seorang pengelola coffee shop di kawasan Denpasar Kamis (11/7), kopi adalah minuman yang merakyat, dapat dinikmati oleh siapa saja.

“Yang membedakan hanyalah cara penyajian,” ujarnya.

Apa pun itu, yang jelas kopi telah memberikan warna tersendiri dalam budaya komunal Indonesia umumnya dan Bali khususnya. Saat ini banyak pengusaha kreatif yang melihat peluang dari berbisnis kopi.

“Masing-masing mengembangkan suatu karakter sebagai nilai jual, baik dari segi rasa maupun suasana,” ungkapnya.

Di tempatnya ini, ia menawarkan sensasi ngopi santai sambil kongkow-kongkow dengan kerabat atau sahabat. Untuk jenis kopi yang disediakan cukup beragam. Mulai dari kopi lokal yang dihasilkan dari petani kopi Bali hingga kopi impor yang sengaja didatangkan dari seluruh perkebunan kopi di seluruh dunia.

“Dengan hadirnya kopi ini, maka kami yakin akan menjadi salah satu tempat pilihan baru bagi para pencinta kopi di Bali, khususnya bagi penikmat kopi lokal dan impor, mulai kopi tubruk sampai kopi latte,” jelasnya.

Industri horeca (hotel, restaurant, and cafe) sebagai pendukung sektor pariwisata pertumbuhannya semakin pesat dari tahun ke tahun. Kafe dan coffeeshop dapat diemui di setiap sudut Pulau Bali dan budaya minum kopi telah menjadi gaya hidup tersendiri, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. (aya)