MELANJUTKAN bisnis keluarga merupakan alasan Kadek Sudiastawan, terjun ke dunia pertenunan. Namun seiring dengan waktu, tangan dinginnya mampu membawa bisnis keluarga tersebut menjadi makin jaya.

“Saya baru lima tahun belakangan terlibat dalam bisnis pertenunan yang dirintis ibu saya sejak 1978,” tutur Sudiastawan, pemilik pertenunan Astiti kabupaten Klungkung tersebut.

Selama lima tahun menggeluti bisnis tersebut ia mengaku melakukan banyak inovasi, terutama dari segi pemasaran. “Pemasaran menjadi kunci utama dalam memajukan bisnis, karena produk kami sudah sangat dikenal masyarakat dari segi kualitas. Makanya saya genjot dari segi pemasaran, sampai akhirnya produk kami bisa memenuhi permintaan ekspor,” tukasnya.

Meski baru menembus dua negara tujuan yaitu Australia dan Inggris, namun perkembangan bisnis mereka semakin pesat. Kedepannya ia berharap endek produksi perajin Klungkung akan semakin dikenal dan dapat memperluas tujuan ekspor.

Dikatakan, awal mulanya bisa mengekspor produk ke Australia dan Inggris berawal dari kerjasama dengan guide, yang mengajak wisatawan melihat produksi tenun tradisional. “Dari sana, wisatawan melihat cara kami produksi dan kualitasnya. Ternyata dari sekian banyak wisatawan, ada sejumlah investor yang akhirnya tertarik membeli produk kami dalam jumlah besar dan berkelanjutan,” paparnya. Kerjasama ekspor tersebut sudah berlangsung sekitar empat tahun.

Meski demikian ia mengaku mengalami kendala besar dalam pengembangan usahanya, yaitu tenaga kerja.

“Sekarang sulit sekali mencari generasi penerus. Anak muda sekarang lebih tertarik kerja di mall-mall jadi SPG, ketimbang menenun yang dianggap jadul dan kerajaan orang tua,” ungkapnya. Padahal dikatakan dari segi penghasilan menenun, jauh lebih besar ketimbang menjadi SPG.

Selain itu harga bahan baku yang terus mengalami kenaikan juga memberikan tantangan tersendiri baginya.

“Bahan baku sutra dan katun memang kita masih impor, belum ada produksi di Indonesia. Dan harganya terus meningkat,” tukasnya. Ia berharap upaya kerjasama yang dilakukan Pemda Bali terkait bahan baku tersebut berjalan lancar, sehingga para perajin tenun tidak lagi kesulitan mendapatkan bahan baku. (pur)