Denpasar (Bisnis Bali) – Dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke 40, Sekaa Topeng Gurnita Kanti Kelurahan Pemecutan Kecamatan Denpasar Barat yang menjadi Duta Kota Denpasar menampilkan Parade Topeng Panca Klasik di Kalangan Ratna Kanda di Art Centr Denpasar baru-baru ini.

Koordinator I Komang Juni Antara mengatakan,  Topeng Panca Klasik yang ditampilkan mengisahkan masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong, sekitar Tahun Caka 1382-1472 di Puri Gelgel.  Saat itu kondisi dan keadaan Puri sangat kacau karena terkena wabah penyakit yang disebabkan Yadnya Pakelem di sungai Unda yang digelar Ida Brahmana Anom Penida bernama Yadnya Winasa Sari.

Setelah menggelar Yadnya tersebut, Ida Brahmana Anom Penida tak pernah ke Puri Gelgel. Disebabkan rasa malu yang besar karena setelah sekian lama tak pernah ke Puri menghadap Raja Dalem Waturenggong, Ida Brahmana Anom Penida memutuskan pergi meninggalkan Puri Gelgel sampai ke Desa Urusana, Biaung-Padang Galak.

Setelah Ida Brahmana Anom Penida meninggal, putra pertama yang disebut Brahmana Wayan Bendesa melanjutkan pemerintahan bersama 40 orang Penganut agama yang bernama Kayu Selem dan Kayu Putih.

Pada saat itu Ida Brahmana Wayan Bendesa bertemu dengan Ida Kiai Anglurah Pinatih yang terlunta-lunta karena dikejar segerombolan semut. Ida Kiai Anglurah Pinatih diajak menetap di Desa Padang Galak. Setelah sekian lama menetap, baik Ida Brahmana Wayan Bendesa dan Ida Kiai Anglurah Pinatih sama-sama membuat Pahyangan. Ida Kiai Anglurah Pinatih mendirikan Pura Kentel Gumi, dan Ida Brahmana Wayan Bendesa mendirikan Pura Bangun Sakti.

Sesuai dengan nama tarinya dalam pementasan ditarikan 5 orang dan 37 orang penabuh. “Masing masing penari membawakan 2 atau 3 karakter,” ujarnya.

Dalam pementasan  ini penari juga mengkolaborasikan tarian dengan lagu atau nyanyian. Mengingat karakter lagu khas yang dimiliki dalam Topeng Panca Pemecutan ini sudah hilang, ia berharap dapat menggali lagi lagu-lagu yang hilang tersebut. (sta)