BANDARA ALTERNATIF - Bali perlu memiliki bandara alternatif untuk mengantisipasi erupsi Gunung Agung dan kepadatan penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Denpasar (Bisnis Bali) – Kondisi Gunung Agung sulit ditebak karena masih aktif dan sewaktu-waktu bisa kembali erupsi. Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan dan kepariwisataan Universitas Udayana, AA. Suryawan Wiranatha, Selasa (10/7) menilai, Bali perlu bandara baru di Bali Utara untuk mengantisipasi kemungkinan Bandara I Gusti Ngurah Rai kembali ditutup.

Letusan erupsi Gunung Agung bisa saja terjadi sebelum atau setelah pelaksanaan konvensi IMF-World Bank. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah tentunya sudah melakukan upaya antisipasi erupsi Gunung Agung dan tetap memutuskan pelaksanaan konvensi IMF-World Bank di Bali.

Jika terjadi penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai akibat erupsi Gunung Agung pemerintah sudah mempergunakan Bandara Banyuwangi sebagai bandara alternatif selama pelaksanaan konvensi IMF-World Bank. Ini termasuk mempergunakan Bandara Surabaya sebagai jalur evakuasi jika Bandara Banyuwangi terkena dampak erupsi Gunung Agung.

Dipaparkannya, ke depan Bali perlu bandara alternatif selain Bandara I Gusti Ngurah Rai. Ini diharapkan rencana dibangunnya bandara di Bali Utara bisa direalisasikan.

Bandara alternatif di Bali Utara dapat digunakan ketika Bandara I Gusti Ngurah Rai ditutup. Dengan lalu lintas penerbangan di Bandara Ngurah RaiĀ  terlalu padat, sebagai alternatif penerbangan selanjunya bisa dialihkan ke bandara di Bali Utara.

Agung Suryawan Wiranatha, yang juga Ketua Paiketan Krama Bali, meyakinkan kegiatan konvensi berskala internasional tak hanya konvensi IMF-World Bank. Banyak kegiatan konvensi internasional yang akan diselenggarakan di Bali.

Suryawan Wiranatha menambahkan inilah Bali perlu memiliki bandara alternatif untuk antisipasi erupsi Gunung Agung ke depan. Salah satu contoh di Bangkok terdapat dua bandara. Bali tidak sempit dan bisa memiliki dua bandara untuk menopang sektor pariwisata. (kup)