Denpasar (Bisnis Bali) – Belakangan ini banyak terjadi penyimpangan cara berpakaian adat ke Pura. Juga pakaian pengantin sudah tidak sesuai dengan pakem yang ada. Bahkan berpakaian adat ke pura sudah tidak sesuai dengan estetika. Seperti memakai kain kamben selutut. Tentunya ini  harus mendapatkan perhatian serius sehingga tidak terus menyimpang.

Untuk itu, workshop pakaian ke pura dan pakaian pengantin yang digelar pada ajang PKB ke-40, belum lama ini, di Gedung Ksir Arnawa. Kegiatan ini mendapatkan sambutan baik dari seluruh PKK kabupaten/kota se-Bali. Seperti Kota Denpasar yang menampilkan pakaian pengantin khas Denpasar dan menampilkan pakaian ke Pura untuk anak remaja dan dewasa.

Kadis Kebudayaan Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Mataram, yang menjadi salah satu peserta parade pakaian ke pura mewakili PKK Kota Denpasar mengaku sangat terkesan dengan pengalaman untuk mengikuti parade pakaian ke Pura di ajang PKB.

“Bagi kami merupakan pengalaman berharga karena dapat menampilkan bagaimana berpakaian ke Pura sesuai dengan pakemnya,” ujarnya.

Di Kota Denpasar sendiri menurut Ngurah Mataram, sering dilaksanakan workshop pakaian sehingga sekarang sebagian besar masyarakat di Kota Denpasar memahami bagaimana berpakaian sesuai dengan pakemnya. Dengan makin sering dilaksanakan workshop diharapkan masyarakat makin paham untuk berpakaian adat sehingga tidak melenceng norma. “Kami harapkan ke depannya tidak ada lagi masyarakat kalau ke pura berpakaian kain sampai di lutut,” ujarnya. (sta)