MENJAMURNYA pasar oleh-oleh modern saat ini membuat pasar oleh-oleh  tradisional pun sepi. Selain memberikan fasilitas yang lebih nyaman serta harga yang pasti, kecenderungan pemandu wisata (guide) mengarahkan wisatawan langsung ke pasar oleh-oleh modern, sehingga membuat pasar oleh-oleh tradisional makin terancam. Mengapa demikian? Berikut laporannya.

Sejak beberapa tahun terakhir ini kunjungan wisatawan ke pasar oleh-oleh tradisional seperti Pasar Kumbasari mulai sepi. Bahkan, beberapa di antara kios-kios yang ada menutup dagangannya. Salah seorang pedagang, Suryanadi, saat ditemui belum lama ini mengatakan, penurunan penjualan sangat tinggi dirasakan. Bahkan, dia menyebutkan penjualan menurun hingga 90 persen.

“Jika dulu sebelum adanya toko oleh-oleh modern, semua tamu ke sini, penjualan bisa mencapai Rp 10 juta hingga Rp 75 juta dalam sehari. Namun, saat ini penjualan hanya mendapatkan hasil ratusan ribu per harinya,” ungkapnya, sembari mengatakan keramaian pengunjung terjadi sekitar tahun 2.000-an.

Ibarat hidup segan mati tak mau, dia pun mengakui tidak ada pilihan lain saat ini. Di satu sisi dia ingin mencari penghasilan yang lebih, namun di sisi lain terkendala pekerjaan apa yang harus diambil, karena dibatasi dengan umur.

Ia menuturkan, jika dulu biasa mulai berjualan dari pukul 07.00 Wita yang kunjungan sudah ramai, namun saat ini lebih memilih berjualan ketika matahari sudah terik. “Karena rugi kita tungguin dari pagi. Kondisi sangat sepi,” ungkapnya. (wid)