FBP Ke-7 2018 Racik Peluang Bisnis Kopi

29

FESTIVAL Budaya Pertanian (FBP) ke-7 tahun 2018 akan meracik peluang bisnis kopi yang menjadi salah satu produk unggulan sektor pertanian Badung. Hal ini diungkapkan Plt. Kadis Pertanian dan Pangan Badung Oka Swadiana didampingi Kabid Perkebunan Ir. Ni Luh Wayan Suparmi, M.M. dan Kabag Humas Putu Ngurah Thomas Yuniartha, saat jumpa media di Petang, Jumat (22/6) kemarin.

Menurut Oka Swadiana, FBP pada dasarnya bentuk investasi untuk pemberdayaan. Selanjutnya FBP diharapkan mampu membuka peluang kerja dan daya saing. “Kali ini komoditi kopi sebagai produk unggulan Badung kembali diangkat, kemudian dicoba dielaborasi menjadi peluang bisnis, terutama untuk generasi muda,” katanya.

Menurut Kadis Perikanan ini, komoditi kopi saat ini menjadi fokus dan prioritas pembangunan pertanian secara nasional. Tidak kurang dari Presiden Joko Widodo pernah mengeluarkan statemen untuk mendirikan Fakultas Pertanian yang khusus menangani komoditi kopi dan kelapa sawit. Hal ini, menurutnya, dimungkinkan karena adanya tren peningkatan konsumsi dunia terhadap kedua komoditi ini. Selain itu, tegasnya lagi, komoditi kopi memang bersifat entertain dan mewarnai berbagai bidang industri seperti pangan, kesehatan, kosmetik, pariwisata, kuliner dan sebagainya.

Menunjuk hal itu, ujar Oka Swadiana, pada satu kesempatan kunjungan kerja ke Jawa Barat Presiden pernah berkunjung dan menikmati sajian kopi Sejiwa Café yang dikelola anak-anak muda dengan profesional. Hal ini sangat menggelitik dan saatnya mulai diperkenalkan di Kabupaten Badung karena adanya potensi dan sekaligus pasar sebagai daerah pariwisata.

Hal ini, menurut Oka Swadiana, bukan sekadar angan-angan atau isapan jempol. Produk kopi Badung Utara baik itu dari Pelaga dan Belok Sidan dan daerah lainnya ternyata sudah moncer dengan sentuhan entertain dan profesionalisme.

Kafe Satu-Satu di Berawa Canggu, katanya, adalah salah satu contohnya. Bagaimana kopi Pelaga begitu digemari wisatawan yang terbukti dari omzet penjualan mulai Rp15 juta hingga Rp 20 juta per hari. Kopi pun bisa dikombinasikan dengan objek wisata, kuliner dan lain sebagainya dengan menonjolkan peran generasi muda sebagai peracik atau baristanya.

Optimalisasi peningkatan petani, tegasnya, akan terjawab apabila petani selalu hadir dalam sistem produksi, pengolahan, dan jasa pemasaran. Hal ini sangat ideal adanya pada kawasan desa wisata dengan daya tarik agrowisata. Hal inilah yang sering disebut sebagai bentuk pertanian kontemporer.

Oka Swadiana pun optimis peluang pengembangan sangat memungkinkan karena adanya produk kopi unggul, tenaga muda terdidik dan SMK Pertanian, SMK Pariwisata tempat barista di Banjar Lawak dan terakhir pasar sebagai daerah pariwsata.

Reorientasi pemikiran tenaga muda terdidik sudah saatnya diubah dari mencari kerja menjadi menciptakan peluang kerja di antaranya menjadi barista.

Hal sama dikemukakan oleh owner Bali Beans Bu Sari. Saat memberikan testimoni, Sari menyatakan, kopi Bali khususnya dari Petang sangat prospektif. Buktinya, kopi dari Petang khususnya dari Blok Sidan sudah diekspor ke 25 negara. “Volume ekspornya telah mencapai rata-rata 40 kg,” katanya.

Dengan ekspor tersebut, Sari mengaku bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp200 juta per tahun. Tak hanya dirinya, kegiatan ekspor ini juga menguntungkan anggota kelompoknya yang berjumlah sekitar 20 orang.