Dinilai Ideal, Harga Eceran Tertinggi Beras Diturunkan

70
GABAH - Tumpukan gabah siap giling di salah satu usaha penggilingan padi. (man)

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berencana akan menurunkan harga eceran tertinggi (HET) beras. Kalangan usaha penggilingan padi di Bali malah menilai upaya tersebut cukup ideal untuk dilakukan sekarang ini. Apa sebabnya?

ISU yang berkembang beberapa minggu terakhir ini adalah terkait dengan penurunan HET beras kualitas medium oleh pihak Kementerian Perdagangan. HET beras sebelumnya ditetapkan Rp 9.450 per kilogram akan diturunkan menjadi Rp 8.900 per kg. Maksud pemerintah dengan kebijakan tersebut adalah untuk menjamin dan mempertahankan daya beli masyarakat dan dapat mengendalikan laju inflasi.

HET ini akan diberlakukan di beberapa wilayah seperti Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi, Sumatera (tidak termasuk Lampung dan Sumatera Selatan), Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan dengan zonasi tiga wilayah tingkat harga yang berbeda. Pada satu sisi yaitu konsumen, kebijakan penurunan HET ini akan dirasakan sangat menguntungkan karena mereka akan dapat menjangkau beras tersebut. Namun, rencana tersebut mendapat sejumlah reaksi dari sejumlah kalangan karena dinilai berpotensi merugikan petani, sehingga kebijakan penurunan HET beras tersebut akhirnya ditunda saat ini.

Menyikapi fenomena tersebut, menurut Ketua Persatuan Perdagangan dan Penggilingan Padi (Perpadi) Bali, AA Made Sukawetan mengungkapkan, rencana pemerintah untuk menurunkan HET beras ini memang ideal dilakukan. Katanya, bahkan patokan rencana pemerintah yang akan menurunkan HET ke level Rp 8.900 per kg tersebut merupakan usulan dari hasil rapat Perpadi seluruh Indonesia yang sempat dilakukan di Jakarta belum lama ini.  (man)