Harga di Atas Rp 10.000, HET Beras tidak Efektif?

27

Penggolongan jenis beras kategori medium dan premium dengan acuan harga eceran tertinggi (HET) masih perlu dipertegas. HET beras yang disepakati yaitu Rp 9.450 per kilogram untuk kualitas medium serta Rp 12.800 untuk kualitas premium. Rata-rata harga beras masih di atas Rp 10.000 per kilogram. Akankah pemberlakuan HET efektif?

TIDAK seperti pemberlakuan HET produk lainnya, HET beras khususnya kualitas medium seolah tidak memiliki pengaruh. Meskipun harga di pasaran tidak melampaui HET beras kualitas premium, harga beras yang beredar di pasaran rata-rata di atas HET medium.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali, pengelompokan jenis beras, yang termasuk beras medium yaitu memiliki kriteria spesifikasi derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air minimal 14 persen, dan butiran patah minimal 25 persen. Di samping itu, yang digolongkan beras medium bisa berbentuk curah ataupun kemasan. Kriteria beras premium yaitu memiliki spesifikasi derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air minimal 14 persen serta memiliki butiran patah hanya 15 persen dan penjualan beras kualitas premium berbentuk kemasan.

Dalam pengelompokan beras tersebut pula diwajibkan mencantumkan label medium ataupun premium dan menyertakan HET dalam kemasan. Data tersebut seharusnya jelas. Namun yang kenyataan di pasaran, masyarakat dibingungkan untuk membedakan beras medium dan premium, sehingga kebanyakan masyarakat membeli berdasarkan merek.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Disperindag Provinsi Bali, I Putu Astawa mengatakan, kualitas beras yang beredar di Bali menempati posisi yang berbeda yaitu di atas medium dan di bawah premium, sehingga harga pun mengikuti. Diakuinya, melalui Bulog, pemerintah telah menyediakan beras medium dengan harga di bawah HET, Rp 9.350 per kilogram. Namun dia menjelaskan, kebanyakan masyarakat lebih suka mengonsumsi beras lokal serta beras kemasan yang harganya rata-rata di atas HET. “Seperti halnya Putri Sejati. Dia memiliki cara pengolahan yang berbeda sehingga mampu menciptakan beras dengan kualitas dan rasa yang diterima oleh masyarakat. Pasarnya pun di Bali cukup tinggi,” ungkapnya. (wid)