”Support” UMKM Badung tak Tanggung-tanggung Hadirkan Hermawan Kertajaya

22

Kabupaten Badung di bawah duet kepemimpinan Bupati Nyoman Giri Prasta, S.Sos. dan Wabup Drs. I Ketut Suiasa, S.H. memberi perhatian kepada semua sektor. Diawali dari program wajib berupa pendidikan dan kesehatan, duet yang dikenal dengan Giriasa ini pun mengembangkan sayap pembangunan lewat Program Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB) yang menyasar lima prioritas pembangunan yakni pertama, pangan, sandang dan papan, kedua, pendidikan dan kesehatan, ketiga, jaminan sosial dan tenaga kerja, keempat, agama, adat seni dan budaya, serta kelima, pariwisata dengan infrastrukturnya. Ini tujuannya untuk menciptakan indeks kebahagiaan bagi masyarakat Badung. Khusus di sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM), apa yang dilakukan?

DALAM men-support atau mendukung UMKM bisa berkembang, Badung menggelar seminar “Strategi Menjadi UMKM Sukses dan Mandiri”. Tak tanggung-tanggung seminar ini menampilkan narasumber yang juga pakar marketing dan owner Mark Plus Hermawan Kartajaya. Seminar yang digelar Pemkab Badung melalui Dinas Koperasi, Perdagangan dan UKM, diadakan di ruang Kerta Gosana Puspem Badung, Rabu (6/6) kemarin. Acara ini diikuti sekitar 400 pelaku UMKM yang tersebar di enam kecamatan, mulai Petang, Abiansemal, Mengwi, Kuta Utara, Kuta dan Kuta Selatan.

Seminar ini dibuka Bupati Bupati Badung Nyoman Giri Prasta, dan dihadiri Sekkab Wayan Adi Arnawa, Kepala Balitbang Badung Wayan Suambara, Kadiskopdag UKM Ketut Karpiana, Ketua Dekranasda yang juga Ketua TP PKK Badung Nyonya Seniasih Giri Prasta, Kabag Humas Putu Ngurah Thomas Yuniartha, Dirut PD Pasar Made Sutarma dan sejumlah pejabat lainnya.

Saat membuka seminar ini, Bupati asal Desa Pelaga Petang ini menegaskan, UMKM masuk dalam PPNSB yang harus digarap secara serius. “Kami ingin UMKM di Badung berkembang dan mampu berbicara hingga ke tingkat nasional, bahkan internasional atau menembus pasar ekspor,” tegasnya.

Untuk meningkatkan pertumbuhan UMKM, Bupati pun memiliki dan menerapkan sejumlah strategi. Dalam pembangunan proyek fisik seperti pura atau wantilan, Bupati meminta semua bahan dan material dipasok oleh UMKM di desa masing-masing. Tukangnya dari desa bersangkutan. Demikian juga material yang dibutuhkan semua dipasok dari desa bersangkutan. “Jika memang ada material yang tidak ada di desa bersangkutan seperti pasir, baru boleh bekerja sama dengan desa lainnya namun tetap di wilayah Badung,” tegasnya.

Dengan strategi ini, Bupati berharap, UMKM memiliki peluang berkembang karena produk dan jasanya dimanfaatkan. “Kami berharap proyek pemerintah bisa menjadi stimulus untuk pertumbuhan UMKM di Badung,” ujarnya lagi.

Demikian juga dengan produk lainnya seperti sandang. Bantuan-bantuan hibah pakaian atau busana kepada kelompok-kelompok tertentu diarahkan untuk menggunakan produksi UMKM di wilayah Badung. Misalnya busana endek untuk PKK, sekeha gong, kidung, srati (tukang banten)  dan sekeha-sekeha lainnya bisa memanfaatkan produksi UMKM di wilayah Badung.

Dalam pembentukan badan usaha milik desa (BUMDes) pun, katanya, harus bekerja sama dengan pelaku UMKM. BUMDes ini nantinya bisa bersinergi atau bekerja sama dengan UMKM di Badung. BUMDes dapat menjual produk-produk UMKM.

Soal pemasaran, ujar Bupati, mutlak menjadi tugas pemerintah. Untuk ini, Badung melalui Dekranasda memprogramkan pameran hingga ke tingkat nasional. Pameran ini melibatkan pelaku UMKM yang memang memiliki produk yang bisa diandalkan atau mumpuni.

Satu lagi yang monumental di sektor pemasaran, katanya, Badung kini membangun Panggung Pemuda Budaya yang mampu menampung hingga 4.000 penonton. Panggung ini dilengkapi dengan ruang-ruang eksibishi untuk memamerkan produk-produk unggulan UMKM di Badung. “Semua yang dilakukan ini agar UMKM mampu menjadi tuan di wilayahnya sendiri,” tegas Giri Prasta.

Dalam rangka menggenjot kualitas produksi, ujar Giri Prasta, Pemkab Badung segera membangun balai latihan kerja (BLK). Pelaku UMKM di Badung terutama yang pemula (start-up) akan digembleng di BLK. Selanjutnya, UMKM akan dilepas dari di-support dari segala sisi, mulai permodalan, pendampingan produksi, pemasaran dan sebagainya.

Dengan berbagai upaya ini, tegasnya lagi, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bukanlah menjadi tantangan lagi, tetapi dipastikan menjadi peluang bagi UMKM di Badung. “Paradigma UMKM mendukung pemerintah kami balik menjadi pemerintahlah yang kini wajib mendukung  UMKM,” tegasnya lagi.

Pada kesempatan itu, Bupati berpesan kepada pelaku UMKM untuk tidak melakukan perang tarif atau atau saling menjatuhkan untuk pelaku UMKM di bidang yang sejenis. Dengan perang tarif atau saling menjatuhkan, UMKM dipastikan akan jalan di tempat atau bahkan segera bangkrut. “Kami tak ingin ini terjadi, UMKM harus saling support,” katanya.

Terkait seminar ini, Giri Prasta memastikan sangat penting, apalagi narasumber yang dihadirkan merupakan pakar marketing nasional. Teori yang diperoleh dalam seminar ini dipastikan sangat penting sebelum melakukan eksekusi. Untuk itu, dia minta pelaku UMKM mengikuti dengan tekun seminar ini. Setelah seminar, Pemkab Badung akan menggelar semiloka.

Di bagian lain, pakar marketing yang menjadi narasumber dalam seminar ini Hermawan Kartajaya mengungkapkan, untuk bisa maju, UMKM harus menguasai ilmu marketing. “Kunci sukses tidaknya UMKM ada di marketing,” katanya.

Tanpa marketing, ujarnya, produk-produk UMKM takkan diketahui, bahkan ada kemungkinan tidak laku. Karenanya, teknik marketing atau penjualan wajib dikuasai. “Tanpa menguasai marketing, atau hanya bermodal nekat, dipastikan UMKM takkan maju atau malah segera bangkrut,” ungkapnya.

Hal ini gayung bersambut dengan program Pemkab Badung yang dirancang Bupati Nyoman Giri Prasta dengan wifi gratisnya. Saat ini sedikitnya terpasang 978 paket wifi gratis dari ujung utara ke selatan. Dengan adanya wifi gratis, tentu saja UMKM bisa melakukan marketing atau pemasaran secara online tanpa kena biaya tambahan. “Ini menjadi salah satu jawaban untuk pelaku UMKM dalam melakukan pemasaran produk,” tegas Giri Prasta. (ad.0644)