Sektor Riil belum Optimal Serap Kredit Perbankan

18

Denpasar (Bisnis Bali) – Sektor riil di Bali diprediksi belum optimal menyerap kredit dari perbankan. Kondisi ini mempengaruhi masih kecilnya pertumbuhan kredit perbankan, dibandingkan pertumbuhandana pihak ketiga yang mengalami peningkatan.

“Bank sebenarnya memiliki likuiditas yang cukup hanya saja sektor riil belum berjalan optimal sehingga pertumbuhan kredit masih kecil pada triwulan I 2018 ini,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali Nusra, Hizbullah di sela-sela buka puasa bersama Forum Komunikasi Lembaga Jasa Kuangan di Denpasar.

Hizbullah menerangkan, total pembiayaan kredit perbankan  (bank umum, bank syariah dan BPR) di Bali hingga Maret 2018 mencapai Rp83 triliunlebih atau meningkat 5,32 persen dari periode sama 2017. Pertumbuhan kredit masih lebih kecil dari penghimpunan DPK mencapai Rp 97,07 triliun. Sektor riil di Bali di antaranya sektor pariwisata, hotel, properti, UKM hingga pertanian. Sektor-sektor tersebut belum optimal menyerap kredit perbankan karena masih berkaitan dengan dampak Gunung Agung, penurunan wisatawan, secara nasional ekonomi tumbuh 5 persenan yang kurang cukup menggerakkan perekonomian.

“Ini membuat kredit tumbuh belum maksimal dan dana yang terhimpun tidak tersalurkan ke kredit supaya agar ekonomi bergerak,” terangnya.

Menurutnya, perbankan sebenarnya mau menyalurkan namun pelaku usaha tidak ada yang menerima. Pelaku usaha masih wait and see dan investor pun masih menunggu kondisi ekonomi membaik.  Ini membuat perbankan cenderung menempatkan dana di surat berharga atau pasar uang.

Sementara Ketua Perbanas Bali Bambang Sugiharto mengatakan, di tengah kondisi kredit yang tidak berjalan maksimal, bank umumnya akan lebih selektif dalam pembiayaan. Nasabah-nasabah yang kondisinya bagus baru akan diambil. Analisis kredit perbankan pun dibuat sempit sehingga kredit dapat  tumbuh bagus dan mampu menjaga kinerja rasio kredit bermasalah (NPL) di angka yang bagus. (dik)