Bank Diminta tak Tergesa-gesa Naikkan Suku Bunga Kredit

10

Denpasar (Bisnis Bali) – Sikap Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan BI 7 DRR menjadi 4,75 persen, menurut Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Bali, AA Ngurah Alit Wiraputra, merupakan langkah yang tepat guna menguatkan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, dengan kenaikan suku bunga acuan tersebut, diharapkan kalangan perbankan nasional tak bertindak latah ikut menaikkan suku bunga kredit, bahkan melebihi kisaran ideal.

“Langkah BI ini sudah tepat. Jika suku bunga acuan tidak naik, orang akan cenderung berinvestasi di dolar. Namun, untuk bisa menopang pertumbuhan perekonomian nasional, dibutuhkan kebijakan lain selain BI 7DRR,” tutur Ngurah Alit, di Denpasar, Minggu (3/6) kemarin.

Selanjutnya, kata dia, adanya kenaikan suku bunga tersebut tentunya akan membawa konsekuensi terutama pada suku bunga kredit perbankan. Perbankan kemungkinan akan melakukan penyesuaian suku bunga yang nantinya akan berdampak pada nasabah, terutama pada penyaluran kredit. Sebab itu, terangnya, dibutuhkan juga kebijakan pendukung lainnya untuk tetap menggairahkan sektor usaha. Semisal, dengan menetapkan kisaran suku bunga ideal yang bisa dilempar oleh kalangan perbankan.

Jelas Alit, selama ini ada kecederungan kalangan perbankan selalu dalam posisi diuntungkan. Paparnya, dalam kondisi krisis, sejumlah pengusaha merugi, namun kalangan perbankan ini tetap saja mengantongi keuntungan. Bercermin dari kondisi tersebut harapannya, kalangan perbankan nasional juga harus mulai berpikiran tidak hanya mencari untung, salah satunya dalam menyikapi kenaikan suku bunga acuan BI 7DRR.

“Dengan kenaikan suku bunga acuan 4,75 persen ini, jangan lantas disikapi dengan ikut menaikkan suku bunga kredit di kisaran yang signifikan. Akhirnya, pengusaha yang rugi, sedangkan perbankan tetap saja bisa mengantongi untung,” ujarnya. (man)