NPL Tinggi, Dampak Perlambatan Ekonomi

12

Denpasar (Bisnis Bali) – Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tercatat selama beberapa bulan ini, kredit bermasalah atau NPL BPR di atas 5 persen yaitu 7,81 persen pada Maret 2018, dan 6,77 persen pada Desember 2017. Peningkatan NPL ini murni akibat imbas perlambatan ekonomi, sehingga bank perkreditan rakyat (BPR) harus berjuang untuk menekan kredit bermasalah.

Sekretaris DPD Perbarindo Bali, Ketut Komplit, Jumat (1/6) mengatakan, untuk menekan NPL, BPR wajib melakukan mitigasi risiko. Di Bali, calon debitur memang mempunyai karakter kejujuran yang lebih baik. Hal ini menjadi salah satu garansi keamanan dalam penyaluran kredit di Bali.

Ia menjelaskan, kondisi ekonomi melambat harus menjadi pertimbangan BPR lebih meyakinkan proses analisa kredit. Penyaluran kredit harus dipertimbangkan berdasarkan ilmu hukum dan teori ekonomi.

Dipaparkannya, BPR harus belajar melakukan mitigasi risiko, terutama saat melakukan perikatan kredit. Harapan dari mitigasi kredit agar kredit yang disalurkan tepat sasaran dan debitur lancar membayar angsuran kredit.

Kepala OJK Regional Bali Nusra Hizbullah mengatakan, salah satu yang menyebabkan NPL BPR tinggi adalah SDM masih lemah. SDM BPR kalah jauh dengan SDM bank umum. (kup)