Geliatkan Bisnis Properti, Subsidi DP pun Jadi Trik

54
SUBSIDI - Menggeliatkan bisnis properti trik subsidi DP dilancarkan dalam menggaet konsumen. 

Sejak 2015 hampir kebanyakan pemasok perumahan dihadapkan pada lesunya penjualan. Tak hanya untuk tipe rumah menengah bawah tapi juga atas. Adakah trik yang dilakukan pemasok agar bisnis perumahan yang dijalankan bisa berjalan? 

LESUNYA daya beli pasar jelas sebagai dampak tak adanya peningkatan pendapatkan masyarakat khususnya sektor formal yang notabene para karyawan dan pegawainya selama ini merupakan pangsa pasar potensial produk perumahan. Di sisi pemasok, kendati prediksi pasar properti terbuka dengan pesatnya kebutuhan akan rumah dari kalangan menengah bawah khususnya, hal ini barulah sebatas prediksi. Riilnya permintaan itu bisa dipenuhi pengembang ketika konsumen siap dengan daya beli baik secara kontan maupun kredit pemilikan rumah (KPR). “Jadi untuk kembali bisa menggeliat, perlu proses panjang ke depan sampai meningkatnya daya beli pasar,” ungkap owner Perum Pesona Village, Titin Muslich baru-baru ini.

Terkait upaya menggenjot sejumlah produk perumahan yang dipasarkan, selain menggeber diskon harga yang cukup spektakuler khususnya bagi konsumen yang membeli secara kontan, trik tak kalah jitu dilakukan adalah dengan memberikan subsidi uang muka atau down payment (DP).

Jelasnya, trik yang dilakukan agar bisnisnya tak lagi lesu ini, bukan menyalahi ketentuan Bank Indonesia (BI) yakni DP 30 persen. Ketentuan tersebut tetap jalan, cuma sebagian dari DP dibantu pengembang. Jadi konsumen yang hanya siap DP relatif sedikit bisa terbantu. Trik ini diharapkan bisa memacu minat beli konsumen karena masalah DP sudah diatur sedemikian rupa tanpa mengganggu kewajiban KPR tiap bulan yang harus dipenuhi konsumen/debitur. Contoh harga rumah tipe 36/75 m2 Rp 300 juta. Kewajiban DP mestinya Rp 100 juta. Namun karena dapat subsidi, konsumen cukup membayar DP separuhnya saja. (gun)