Galungan, Sebagian Besar Buah Lokal justru ”Absen”

28

Jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan tahun ini, sebagian besar komoditi buah lokal absen alias tak tersedia di pasaran. Hal ini ironis di tengah kesadaran masyarakat mencintai buah lokal mulai tumbuh seiring dengan kebijakan pemerintah daerah yang ingin mengangkat daya saing buah lokal dan harganya yang terjangkau dibandingkan buah impor. Apa penyebab absennya sejumlah buah lokal di pasaran?

JELANG Hari Raya Galungan dan Kuningan, permintaan terhadap buah mengalami lonjakan yang signifikan. Buah menjadi komoditi untuk digunakan sebagai upakara hingga konsumsi. Di sisi lain, beberapa tahun terakhir, kebijakan pemerintah daerah yang ingin mengangkat potensi buah lokal telah mampu mengubah pola pembelian konsumen akan salah satu komoditi pertanian dari sebelumnya yang hanya terfokus pada buah impor. Warga pun telah kembali melirik buah lokal di pasaran.

Sayangnya, kini dengan kembali pulihnya ketertarikan konsumen akan buah lokal berpeluang akan pudar. Sebab, di tengah melonjaknya permintaan pasar khususnya pada jelang Galungan dan Kuningan ini, produksi buah lokal justru tidak tersedia di pasaran. Kalaupun tersedia, jumlahnya hanya terbatas saat ini.

Salah seorang petani sekaligus pebisnis buah lokal antarpulau I Wayan Merta, S.Sos.,M.M. mengungkapkan, saat ini hanya sebagian kecil jenis buah lokal yang beredar di pasaran menjelang Galungan dan Kuningan. Di antaranya, jeruk, pisang dan apel. Sementara buah lokal lain seperti salak, rambutan, mangga, anggur dan manggis yang biasanya menjadi pilihan sebagai bahan upakara, jumlahnya sedikit, bahkan cenderung langka.

“Saat ini hanya jeruk dan apel lokal bisa dengan mudah dijumpai di pasaran, sedangkan buah lokal lainnya menghilang,” tutur pemasok rata-rata hingga 2 ton per hari untuk pangsa pasar jeruk di Bali saat ini. (man)