Pelemahan atau terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat biasanya akan berdampak pada sektor otomotif. Namun, imbasnya akan terasa apabila terjadi dalam periode tertentu. Bagaimana sikap agen pemegang merek (APM) roda empat?

KONDISI nilai tukar rupiah yang masih belum bergairah terhadap dolar AS diakui memberikan dampak negatif kepada sektor otomotif. “Dampak pelemahan rupiah sangat terasa karena sebagian besar komponen produk kami memiliki kandungan impor tinggi,” ujar General Manager Kia Bali, Dodi Dikariawan.

Lanjutnya, pelemahan nilai tukar sudah pasti berimbas kepada kenaikan harga mobil di pasaran. “Namun kami masih wait and see hingga 3 bulan ke depan,” ungkapnya.

Katanya, kenaikan harga mobil dipengaruhi oleh tiga hal, yakni komponen valas, biaya di dalam negeri dan aturan di industri mobil Tanah Air.

Saat ini, impor mobil ke dalam negeri terbagi menjadi dua cara, yakni secara CBU atau melalui impor manufaktur. Kemudian cara kedua adalah dengan cara impor dalam bentuk CKD. “Semuanya mengandung komponen dolar AS. Kalau CBU itu 100 persen adalah dari impor berarti sangat mempengaruhi,” paparnya.

Namun, Dodi menilai pasar Indonesia umumnya dan Bali khususnya masih sangat besar, sehingga pihaknya masih optimistis untuk menggaet pasar. “Varian kami hingga kini belum ada kenaikan harga, yakni Kia Sportage AT masih tetap Rp 412 juta, Kia Rio Sunroof MT Rp 265 juta, sedangkan Kia Rio sunroof AT Rp 275 juta per unit,” tandasnya. (aya)