’’Jaje Uli’’ Ketan Hitam harus ’’Order” dulu

37

Singaraja (Bisnis Bali)- Jaje uli   digunakan umat Hindu Bali,  sebagai  salah satu sarana upakara, sehingga kebutuhan kue tradisional ini cukup tinggi apabila menjelang hari raya. Biasanya jaje uli dibuat dari ketan putih, namun masyarakat Buleleng memiliki jaje uli ketan hitam yang merupakan ciri khas daerah tersebut.

Jaje uli ketan hitam tidak diproduksi setiap saat, karena tingginya biaya produksi. “Saya membuat jaje uli  ketan hitam ini kalau ada orderan, karena harga ketan hitam (injin) lebih mahal dari ketan putih,” papar Luh Wiriadi, pemilik Luh Buleleng.

Kue  untuk kebutuhan upakara ini berbeda dengan  jaje uli  biasanya yang disantap bersama tape. Jaje uli untuk upakara dibuat berbentuk bulat, dipotong tipis kemudian dikeringkan dan digoreng. “Jaje uli kering biasanya putih polos atau coklat gula Bali dan merah. Tapi kami di Buleleng memiliki jaje uli yang warna hitam dari ketan hitam,” tandasnya.

Dari segi rasa jaje uli ketan hitam ini tentu berbeda dengan yang terbuat dari ketan putih, hal tersebut menjadi daya tarik jajan ketan hitam ini. “Rasanya memang lebih enak yang ketan hitam, lebih gurih. Apalagi saya membuatnya dengan gula Bali asli Pedawa,” tukasnya. Jadi jaje uli sisa upacara (prasadam) tetap enak untuk dikonsumsi sebagai camilan. (pur)