GUNA menghindari siswa membuka aplikasi atau situs-situs ”berbahaya”, laptop yang dibagikan kepada siswa kelas V dan VI sekolah dasar (SD) di Badung menggunakan sistem offline. Dengan offline, laptop hanya akan bisa digunakan untuk proses pembelajaran.

Hal ini ditegaskan Kadisdikpora Badung ketut Widia Astika kepada sejumlah wartawan baik media cetak maupun elektronik, Rabu (9/5) lalu. Saat itu, Kadisdikpora didampingi Kabag Humas Badung Putu Ngurah Thomas Yuniartha dan sejumlah pejabat di Disdikpora Badung.

Sistem offline ini diterapkan, kata pejabat asal Kuta tersebut, untuk memastikan laptop digunakan hanya untuk proses pembelajaran. “Jika dengan online, siswa berpeluang menggunakan laptop untuk membuka situs-situs atau aplikasi lain yang tak berhubungan dengan proses belajar mengajar,” katanya.

Dengan sistem ini, Widia Astika memastikan keterpakaian laptop sangat tinggi. Di dalam laptop berisi aplikasi yang memang terkait dengan pembelajaran sehingga sangat berguna menunjang proses belajar-mengajar di sekolah terutama dalam rangka melaksanakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK).

Pihaknya juga berinisiatif untuk menggelar lomba mengenai pemanfaatan laptop di kalangan guru. Jika pembimbingnya sudah mumpuni dalam pemanfaatan laptop, tentu saja proses pembelajaran bisa berjalan lancar. “Lomba pemanfaatan laptop di kalangan guru sudah kami rintis,” tegasnya.

Saat ditanya kemungkinan kerusakan, Kadisdikpora menegaskan masih menjadi tanggungan perusahaan pemasok. Laptop yang rusak dijemput oleh pihak perusahaan pemasok untuk selanjutnya diperbaiki.

Dalam rangka mencegah kerusakan ini, pihak sekolah banyak berinisiatif menaruh laptop itu di sekolah. “Jika di sekolah dipastikan lemah aman dibandingkan jika dibawa ke rumah,” katanya. (ad 0531)